Malioboro akan Dijadikan Pedestrian Murni

33
Dahulu di tahun 70-80 an Malioboro menjadi salah satu pusat kesenian. Foto: Thovan
Dahulu di tahun 70-80 an Malioboro menjadi salah satu pusat kesenian. Foto: Thovan

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Setiap Selasa Wage, Jalan Malioboro disterilkan dari kendaraan bermotor.

Upaya tersebut merupakan bagian dari kampanye peningkatan kreativitas publik oleh Pemerintah DIY.

Bertepatan dengan car free day Sabtu malam lalu (23/7/2019) Pemda DIY menggelar Dialog Budaya dan Gelar Seni YogyaSemesta seri 119 yang digelar di pelataran gerbang Gedung Kepatihan.

Dialog tersebut langsung dapat disaksikan oleh masyarakat luas yang sedang menikmati suasana malam di Malioboro.

Selain dialog, acara tersebut turut menyuguhkan gelar wayang wong dan tarian yang dipersembahkan oleh para pegiat seni dari SMKI Yogyakarta.

Baca juga: Wajah Pedestrian Malioboro, Lengang dan Lebih Leluasa untuk Berswafoto

Selain itu, ada pula sajian dari siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) yang membuat lukisan dadakan di area Malioboro. Nantinya keempat lukisan terbaik akan langsung dilelang.

Sebelumnya, acara tersebut turut mengundang Hanung Bramantya, Landung Simatupang, dan Indra Tranggono. Namun keduanya berhalangan hadir karena kesibukan masing-masing.

Menurut Hari Dendi selaku moderator, acara tersebut diselenggarakan guna mengampanyekan kembalinya ruang-ruang publik.

Baginya, semakin banyak ruang publik mala semakin banyak kreativitas yang dapat dikembangkan. “Pemerintah wajibnya menciptakan peluang,” ujar alumnus UGM itu.

Di sisi lain, menurut Indra Trenggono Malioboro sudah menjadi ikon penting kota Jogja yang memiliki tiga perspektif di dalamnya.

Baca juga: Presiden Ajak Jan Ethes Naik Andong di Malioboro

Tiga perspektif itu yakni Malioboro beserta romantismenya, Malioboro sebagai pusat ekonomi dan wisata, lalu Malioboro sebagai salah satu pusat peradaban Yogyakarta.

Menurutnya, Malioboro banyak memuat memori kolektif. Dahulu di tahun 70-80 an Malioboro menjadi salah satu pusat kesenian.

Banyak pegiat seni yang dahulu menjadikan Malioboro sebagai pusat tongkrongan sekaligus berkarya.

“Di sini orang-orang melakukan konfirmasi nilai antar sesama penggerak budaya. Banyak interaksi di sini, ide mengalir di sini. Ada yang nginep di sini. Bikin cerpen di kertas rokok dan lain sebagainya. Ketika Malioboro jadi kapitalistik itu mengubah sikap orang,” papar Indra.

Oleh karena itu, menurutnya pemerintah DIY harus turut berpihak pada kebudayaan dan ruang publik dengan tidak hanya mengutamakan sisi ekonimi Malioboro.

Baca juga: Masjid Siti Djirzanah, Penghuni Baru Malioboro

Ia juga menyebut Malioboro merupakan gambaran dari Jogja yang terbuka dan toleran, serta banyak dikunjungi oleh orang-orang dari daerah lain.

Sementara menurut Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, Malioboro akan dijadikan daerah pedestrian murni.

Namun hal itu menurutnya perlu membutuhkan proses, sehingga tidak bisa dialihfungsilan secara langsung.

“Nantinya Malioboro akan disterilkan sepenuhnya dari kendaraan bermotor namun toko dan pedagang kaki lima akan tetap ada,” pungkasnya. (Thovan)

Baca juga: Menikmati Ketenangan Malioboro dari Jogja Library Center