Mahfud MD: Indonesia Perlu Manusia yang Terdidik

84
Indonesia Emas 2045, kata Mahfud, dicanangkan pemerintah tujuannya antara lain agar semua rakyat sejahtera dan tidak ada yang terlantar. Foto: Taufiq
Indonesia Emas 2045, kata Mahfud, dicanangkan pemerintah tujuannya antara lain agar semua rakyat sejahtera dan tidak ada yang terlantar. Foto: Taufiq

KAGAMA.CO, SEMARANG – Untuk menyogsong Indonesia Emas tahun 2045, maka diperlukan penyelenggaraan pemerintahan yang baik sesuai dengan tuntutan perkembangan masyarakat dunia serta diperlukan manusia-manusia terdidik yang unggul.

Demikian disampaikan Prof. Mohammad Mahfud MD dalam Seminar Nasional Pra-Munas KAGAMA XIII bertajuk Pendidikan Bangsa dalam Menyiapkan SDM Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0 di Museum Ranggawarsita Semarang, Kamis (22/8/2019).

“SDM yang unggul itu diperlukan untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 yang akan mengelola dan hidup di Indonesia sebagai rakyatnya,” ujarnya.

Menurut Mahfud, Indonesia Emas di tahun 2045 bukanlah isapan jempol belaka, namun berdasarkan kajian ilmiah dari para ahli.

Indonesia Emas 2045, kata Mahfud, dicanangkan pemerintah tujuannya antara lain agar semua rakyat sejahtera dan tidak ada yang terlantar.

Seminar bertajuk "Pendidikan Bangsa dalam Menyiapkan SDM Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0". Foto: Taufiq
Seminar bertajuk “Pendidikan Bangsa dalam Menyiapkan SDM Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0”. Foto: Taufiq

Baca juga: Panitia Seminar Pra-Munas KAGAMA XIII Kenakan Busana Adat Nusantara

“Harus diingat bahwa perjuangan menuju Indonesia Emas nantinya harus melalui jalan revolusi industri 4.0 dengan ciri yang serba digital dan banyak disrupsi,” ujar Mahfud yang pernah kuliah di Sastra Arab UGM itu.

Oleh sebab itu, lanjutnya, diperlukan kebijakan pendidikan yang bukan hanya terampil secara teknokratis tetapi juga berbasis pada pendidikan karakter.

Hal itu utamanya bertujuan agar rasa cinta tanah air, merasa memiliki Indonesia, membanggakannya, dan ingin merawatnya atau nasionalisme anak bangsa tidak tergerus.

Anggota Dewan Pengarah BPIP itu mengatakan, menyelenggarakan pendidikan yang baik menjadi salah satu tujuan mengapa kita mendirikan negara.

“Salah satunya dari empat tujuan negara, seperti yang disebutkan di dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945 adalah ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’, bukan mencerdaskan otak semata,” tandasnya.

Baca juga: Alasan Seminar Pra-Munas KAGAMA Digelar di Museum Ranggawarsita, Bukan di Hotel

Filosofi mencerdaskan kehidupan, paparnya, berarti mencerdaskan otak dan watak.

Di dalam Pasal 31 UUD 1945 disebutkan, pendidikan diselenggarakan untuk memajukan IPTEK berdasar iman, takwa, dan akhlak (berbudi utama).

Dari Alinea IV Pembukaan dan Pasal 31 UUD 1945 tampak jelas bahwa pendidikan Indonesia tak bisa dilepaskan dari pendidikan karakter.

“Ia tak cukup mentransfer dan mengokohkan knowledge dan kemampuan teknokratis tetapi juga harus membangun karakter bagi warga negara,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sekjend KAGAMA AAGN Ari Dwipayana mengatakan, salah satu tantangan yang dihadapi oleh Pemerintah dan bangsa Indonesia dewasa ini adalah bagaimana mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menggerakan dan memanfaatkan teknologi revolusi industri 4.0 dalam mendorong pembangunan ekonomi nasional, daya saing, dan kesejahteraan sosial.

Baca juga: Membaca Transformasi dan Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia

Pihaknya melanjutkan, pada pokok ini sektor pendidikan nasional menghadapi tantangan nyata dan tidak ringan.

Pendidikan Indonesia dihadapkan pada tantangan bagaimana menyediakan bentuk pendidikan yang tidak hanya tanggap dalam menyiapkan peserta didik yang kompeten, tetapi juga memiliki karakter kuat berakar pada jati diri bangsa.

Untuk dapat memenuhi komptensi yang dibutuhkan oleh revolusi industry 4.0, kata Ari, pendidikan nasional tidak dapat lagi bersandar pada pendekatan, muatan dan praktik-praktik pendidikan dan pengajaran yang saat ini dipakai.

“Diperlukan terobosan untuk meningkatkan kempampuan berpikir kritis, kreatif dan inovatif, serta kecakapan berkomunikasi, berkolaborasi, dan berkoordinasi berbasis teknologi informasi, lebih dari sekedar membebaskan dari literasi dasar yakni membaca, menulis dan berhitung,” pungkas Staf Khusus Presiden Bidang Politik dan Pemerintahan itu. (Taufiq Hakim)

Baca juga: Presiden Jokowi Dijadwalkan Hadiri Munas Kagama 2019