“Harapannya, di sekolah musikku, aku bisa memberikan treatment yang tepat. Satu anak dan yang lain kan beda. Gak bisa memaksakan satu anak harus mahir text book atau baca partitur not balok seperti temannya yang lain,” tambah Mahesa. Dengan sistem ini, menurutnya anak tetap didorong mencapai tujuan namun tidak dipaksakan mengikuti sistem yang kemungkinan malah menghambat perkembangan mereka.

Selain itu, ia juga ingin membuat studio rekaman dengan kelas high end. Seperti halnya studio Lokananta di Solo, Mahesa ingin studio yang dibangunnya kelak berukuran luas yang bisa digunakan untuk latihan sekaligus rekaman dalam satu tim penuh. Pilihan studio high end juga bermaksud agar tetap mendukung studio rekaman lain yang sudah berdiri di Jogja. “Intinya kan orang jadi punya pilihan lain, tapi aku nggak merusak pasaran yang sudah ada,” tandasnya.

Mahesa merasa capaiannya selama ini tidak akan terjadi tanpa dorongan dari orang tua. Mustahil rasanya bagi anak-anak seusianya dulu untuk rajin berlatih musik secara kontinu tanpa apresiasi dari orang tua.

Mahesa akan menunjukkan kemahirannya menggebuk drum di panggung Economic Jazz, Sabtu, 28 Oktober di Grha Shaba Pramana UGM.[Desti]