Di bawah bimbingan Dr. drh. Widagdo Sri Nugroho, MP., mereka lantas bergerak memanfaatkan limbah tersebut. Ketiganya lalu membuat krim  dari ekstrak ampas susu kedelai yang berguna sebagai agen anti-aging melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang penelitian Eksakta.

“Sebelumnya kami melakukan formulasi untuk mendapatkan komposisi krim yang paling baik dalam mengatasi penuaan,” jelasnya.

Firda menambahkan bahwa formulasi terbaik yang didapatkan yakni krim dengan kandungan 10 persen ekstrak ampas susu kedelai. Dari uji organoleptis dan uji pH menunjukkan komposisi tersebut telah sesuai dengan standar krim.

Setelah didapat formulasi yang tepat,  krim selanjutnya diujicobakan ke hewan yakni pada kulit tikus wistar. Sebelumnya kulit tikus wistar disinari dengan UV-B selama 17 menit dengan kekuatan radiasi penyinaran sebesar 10 mW/cm2 selama 14 hari.

“Hasilnya memperlihatkan bahwa aplikasi Gylcrem 51 persen lebih efektif dibanding krim anti aging kimiawi yang beredar di pasaran dalam mengatasi penuaan kulit,” kata Muna.(Humas UGM/Ika)