Mahasiswa UGM Ciptakan Inovasi Perangkap Lalat Buah untuk Petani

31
Perangkap lalat buah ini dilatarbelakangi keprihatin terhadap kondisi petani buah jambu air yang sering gagal panen. Foto: Humas UGM
Perangkap lalat buah ini dilatarbelakangi keprihatin terhadap kondisi petani buah jambu air yang sering gagal panen. Foto: Humas UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Serangan hama lalat buah pada tanaman jambu air seringkali mengakibatkan petani mengalami gagal panen.

Namun kini ada cara efektif yang mampu mengurangi serangan lalat buah, yaitu dengan menggunakan perangkat lalat buah yang dikembangkan sejumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lima mahasiswa UGM yaitu Reka Indera Malis (Kimia), Ilham Satria Raditya Putra (Kimia), Adlina Pinka Nada (Hama Penyakit Tumbuhan), Giry Xavira Putri (Biologi), dan Muhammad Afin Al Basyar (Kimia) mengembangkan inovasi perangkap lalat buah guna mengatasi serangan hama lalat buah, terutama pada Jambu Air Dalhari.

Reka menyebutkan pembuatan perangkap lalat buah ini dilatarbelakangi keprihatinannya terhadap kondisi petani buah jambu air Dalhari di Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, DIY yang sering mengalami gagal panen akibat serangan lalat buah.

Baca juga: BETAGRAFT, Obat Patah Tulang dari Limbah Ceker Ayam Karya Mahasiswa UGM

Petani setempat telah melakukan tindakan pencegahan dengan teknik brongsong (pembungkusan) pada buah untuk menyelamatkan jambu air dari lalat buah.

Teknik ini dinilai efektif menghalau lalat buah, tetapi proses pembungkusan buah memakan waktu dan tidak bisa menjangkau seluruh buah dalam satu pohon.

Berangkat dari kondisi itulah kelima mahasiswa ini mulai memutar otak mencari solusi untuk mendapatkan teknik yang efektif serta efisien.

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Pengembangan Teknologi (PKM-T) Ristekdikti tahun 2019, mereka akhirnya berhasil mengembangkan perangkap lalat buah yang tahan lama untuk mengatasi serangan hama lalat buah.

Baca juga: Aplikasi D’BOS Karya Mahasiswa UGM Untuk Cegah Kecelakaan Lalu Lintas

“Perangkap lalat buah ini kami desain mengeluarkan aroma mirip dengan feromon dari lalat buah betina untuk menarik lalat jantan agar mendekati perangkap. Lalat buah jantan yang terjebak akan tertempel pada dinding dalam perangkap dan mati,” jelas Reka, Selasa (16/7/2019) di Kampus UGM.

Perangkap tersebut mampu dioperasikan hingga lebih dari 3 minggu sejak waktu pemasangan.

Namun demikian, cairan yang dipasang dalam perangkap untuk menarik lalat buah perlu diisi ulang setiap 3 minggu sekali.

Sementara Ilham menambahkan timnya juga melakukan sosisalisasi pada 39 kelompok petani pada Juni lalu.

Pada acara tersebut, tim mengupayakan agar setiap anggota kelompok tani memiliki dan mampu mengoperasikan perangkap lalat buah serta membuat perangkap lalat buah.

“Kami berharap perangkap lalat buah ini bisa membantu petani dalam mengatasi serangan lalat buah,” tuturnya. (Humas UGM/Ika)

Baca juga: Kisah Hardjoso Prodjopangarso, dari Hampir Dihukum Mati Penjajah hingga Segudang Karya Teknologi untuk Rakyat