BULAKSUMUR, KAGAMA – Timbulnya obesitas terjadi karena faktor nafsu makan yang tidak terkendali. Sementara itu, hasrat atau keinginan makan diatur oleh otak, tepatnya pada nukleus arkuata bagian dari hipotalamus yang menghasilkan hormon serotonin. Hormon serotonin berfungsi menurunkan nafsu makan dan penginduksi kepuasan makan.

Pencegahan obesitas, dengan demikian, dapat dilakukan melalui nutrisi yang memacu produksi hormon serotonin. Salah satu alternatif solusi dilakukan melalui konsumsi kacang-kacangan, terutama kacang tanah (Arachis hypogaeae L.). Karena, kacang tanah merupakan sumber asam amino triptofan yang dapat menekan nafsu makan.

Kejadian obesitas yang cukup tinggi di Indonesia memotivasi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mencari solusi dan pencegahannya. Lima mahasiswa, yakni Sekar Risdipta Savitarasmi, Meilisa Khoiriya, Raka Permana Adlin Putra dari Fakultas Kedokteran, Sri Wening Kurniajati dari Fakultas Kedokteran Hewan, dan Wahyu Setyaning Budi dari Fakultas Teknologi Pertanian.

Mereka mengembangkan produk susu dari kacang tanah sebagai alternatif penanganan obesitas yang diberi nama SUKATA. Penelitian dilaksanakan di bawah bimbingan Harry Freitag Luglio Muhammad, S.Gz., MSc., Dietisien melalui Program Kreativitas Mahasiswa UGM 2017.

"SUKATA" susu yang diolah dari kacang tanah sebagai solusi alternatif pencegahan obesitas hasil kreasi Mahasiswa UGM (Foto Dok. Humas UGM)
“SUKATA” susu yang diolah dari kacang tanah sebagai solusi alternatif pencegahan obesitas hasil kreasi Mahasiswa UGM (Foto Dok. Humas UGM)

Ketua Pengembang SUKATA, Sekar Risdipta mengatakan mereka berlima melakukan penelitian lebih mendalam untuk mengkaji peran susu kacang tanah terhadap produksi dari molekul serotonin. Untuk membuktikan efek susu kacang tanah dalam menurunkan nafsu makan dilakukan percobaan pada 30 ekor tikus Sprague Dawley.

Dikatakannya, susu kacang tanah diberikan melalui sonde oral pada tikus yang diberi pakan tinggi lemak dan tinggi fruktosa. Hal ini dilakukan untuk menginduksi obesitas pada tikus. Setelah 25 hari dilakukan pengambilan plasma darah tikus untuk melihat kadar serotonin untuk  dianalisis.

“Hasilnya, penambahan berat badan pada kelompok tikus yang diberi perlakuan SUKATA lebih sedikit dibandingkan dengan tikus yang tidak diberi perlakuan,” ungkapnya.

Selain itu, pada kelompok yang diberi perlakuan SUKATA juga mengalami penurunan nafsu makan. Hal ini membuktikan bahwa SUKATA dapat membantu mencegah terjadinya perubahan berat badan secara berlebihan yang dapat memicu terjadinya obesitas.

Pembuatan susu kacang tanah tidak hanya menjadi solusi mencegah terjadinya obesitas di Indonesia. Namun, juga mendukung diversifikasi olahan pangan fungsional berbasis kacang tanah yang masih sangat terbatas dan belum dikenal masyarakarat secara  luas.

“Susu kacang tanah ini bisa menjadi solusi untuk mencegah terjadinya obesitas di Indonesia dan menjadi produk alternatif diversifikasi olahan pangan dari bahan kacang tanah,” pungkasnya. [Humas UGM/Ika/rts]