Mahasiswa Peternakan UGM Ubah Bulu Ayam Jadi Papan Pengganti Kayu

66
Tiga mahasiswa Fakultas Peternakan UGM, Imaniar Rusyadi, Fahmi Arrasyid, dan Dian Setya Budi menghasilkan inovasi berbahan dasar bulu ayam. Foto: Humas UGM
Tiga mahasiswa Fakultas Peternakan UGM, Imaniar Rusyadi, Fahmi Arrasyid, dan Dian Setya Budi menghasilkan inovasi berbahan dasar bulu ayam. Foto: Humas UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Tiga mahasiswa Fakultas Peternakan UGM, Imaniar Rusyadi, Fahmi Arrasyid, dan Dian Setya Budi menghasilkan inovasi berbahan dasar bulu ayam.

Inovasi yang dibikin tiga mahasiswa angkatan 2016 tersebut merupakan purwarupa papan partikel dari limbah bulu ayam yang dicampur botol plastik sekali pakai.

Mereka mencetuskan ide ini lantaran iba dengan kondisi lingkungan yang makin parah.

Sebab, limbah bulu ayam dan botol plastik jumlahnya melimpah dan sukar didekomposisi secara alami.

Rilis Badan Pusat Statistik pada 2019 menyatakan produksi bulu ayam potong (broiler) adalah 9,6 persen dari bobot totalnya.

Adapun produksi ayam pedaging pada 2018 mencapai 2,14 juta ton.

Sehingga, produksi bulu ayam broiler pada tahun lalu diperkirakan ada di angka 202,9 juta ton.

Baca juga: Dampak Cuaca Ekstrem, Penyakit Akut Leptospirosis di Bantul Meningkat

Sementara itu, produksi limbah plastik di Indonesia juga mencapai tahap yang mencengangkan, yakni 64 juta ton per tahun.

Nilai itu merupakan yang terbesar kedua di dunia.

Ketua penelitian purwarupa papan pertikel, Imaniar Rusyadi, menerangkan, bulu ayam dan botol plastik merupakan limbah yang masih belum begitu dilirik untuk diolah menjadi produk bermanfaat.

Karena itu, dia memandang dua limbah tersebut memiliki potensi menjadi pengganti papan kayu berperekat sintetis.

Sebab, Imaniar menduga kebutuhan yang tinggi akan produk olahan kayu menyebabkan penurunan luas hutan.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, menyebut antara 2014-2015 terjadi penurunan luas lahan hutan mencapai 0,82 juta Ha.

Selain itu, Imaniar beranggapan bahwa botol plastik lebih ramah lingkungan ketimbang perekat kayu konvensional yang berbahan baku formaldehida.

Baca juga: Alumnus UGM dan 12 Staf Kepresidenan Temui Jokowi Rancang Indonesia Maju