Mahasiswa dan Kolega Mengenal Almarhum Sudaryanto sebagai Sosok yang Kalem dan Santun

268

Baca juga: KAGAMA Jabar Siap Gelar Jalur Sutra untuk Hubungkan UMKM dan Destinasi Wisata Jabar-Magelang

Seperti M Agus Widiyanto, alumnus UGM angkatan 1992. Menurut dia, saat mengajar almarhum selalu menyampaikan materi dengan suara yang pelan.

Banyak mahasiswa yang tidak memperhatikan. Namun, Sudaryanto tetap sabar dan tak pernah marah.

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga Pak Dar husnul khatimah. Kami memanggilnya dulu dengan julukan ‘Pak Kalkulus’, orangnya sederhana, pendiam, dan baik hati.”

“Semoga dimudahkan dan dilapangkan jalannya. Amin,” terang mantan mahasiswa almarhum, Nezar Patria melalui pesan singkatnya.

Dosen Fakultas Filsafat UGM, Moch. Najib Yuliantoro, S.Fil., M.Phil., menganggap Sudaryanto tak hanya sebagai rekan kerja. Tetapi juga sebaga gurunya yang istiqomah, sabar, dan apa adanya.

Baca juga: Budi Karya Sumadi: Fotografi Bisa Bangkitkan Kegembiraan dan Optimisme di Masa Pandemi

“Pembawaannya santai, membuat saya sebagai dosen muda tidak canggung untuk berinteraksi dengan beliau.”

“Kadang kita menghabiskan waktu untuk ngopi bersama, juga menemani beliau menikmati sebatang rokok, di teras samping kantor beliau,” ungkapnya.

Seperti yang dikatakan Arqom, Najib juga melihat Sudaryanto sebagai guru yang pendiam dan bicara seperlunya.

Sudaryanto senantiasa tenang dan rileks dalam berpendapat, juga saat menghadapi berbagai situasi.

Menurutnya, ini menjadi sifat yang patut Najib teladani dari almarhum.

Baca juga: Enam Langkah yang Harus Dilakukan Indonesia dalam Mengembangkan Energi Baru dan Terbarukan