M. Yamin  Pulangkan Ratusan Mahasiswa Indonesia di Belanda yang Tak Lulus-Lulus di Era 50-an

102

Baca juga: Laboratorium-Laboratorium Tertua di UGM

Menurut Yamin, saat itu telah banyak dirintis sekolah tingkat menengah ke atas dan kejuruan, serta rencana pendirian beberapa perguruan tinggi.

Perguruan-perguruan tinggi tersebut direncanakan dibangun di Makassar dengan nama Hasanuddin, dan di Surabaya dengan nama Airlangga.

Pembangunan lembaga-lembaga pendidikan tersebut menurut Yamin merupakan salah satu prioritas pemerintah Indonesia kala itu.

Setelah penjelasan tersebut Yamin tak segan-segan mulai memberi kritikan tajam pada para mahasiswa.

Yamin mendapat banyak laporan bahwa sebagian mahasiswa telah lewat masa studinya, namun belum juga kembali ke Indonesia.

Baca juga: Peraih Beasiswa PPA Ini Jadi Lulusan Tersingkat

Bagi Yamin hal itu merupakan suatu penyimpangan karena melanggar perjanjian beasiswa dengan pemerintah Indonesia.

Ia mengingatkan para mahasiswa terutama para penerima beasiswa agar segera menyelesaikan pendidikannya.

Hal itu karena telah banyak mahasiswa yang mengantre untuk mendapat beasiswa serupa, sedangkan kuota dan biaya yang disediakan kala itu amat terbatas.

“Ada sekitar 1.800 mahasiswa di sini, setengahnya akan kita pulangkan. Akan ada seleksi untuk menentukan siapa yang tetap layak belajar di sini atau tidak. Bagi yang sudah melewati batas lima tahun terpaksa harus kembali ke Indonesia,” ucap Yamin di akhir pidatonya yang hampir memakan waktu tiga jam tersebut. (Thovan)

Baca juga: Kata Akademisi UGM Terkait Wacana Rektor Asing Pimpin Perguruan Tinggi Indonesia