Sampai lulus, ia tak pernah mendapat nilai di bawah A. Hal tersebut menurut Danny karena campur tangan Tuhan. “Itu semua Tuhan yang kasih,” tutur anak pertama dari dua bersaudara ini.

Kedua orang tua Danny, sebelumnya tak tahu menahu soal nilai yang diperoleh anaknya. Danny memang jarang bercerita soal nilai yang ia dapat. Kedua orang tuanya bahkan tahu bahwa anaknya jadi wisudawan dengan nilai tertinggi bukan dari Danny, melainkan dari ibu temannya.

Danny, lulusan dengan IPK 4.00 bersama keluarganya.(Foto: Dok. Danny)
Danny, lulusan dengan IPK 4.00 bersama keluarganya.(Foto: Dok. Danny)

Sukses itu Bahagia

Memperoleh IPK tertinggi bukan merupakan sebuah kesuksesan yang utama bagi Danny. Bukan pula soal mempunyai penghasilan tinggi di kemudian hari. Tapi baginya sukses ialah menemukan arti kebahagiaan dalam hidup.

Pandangan tersebut ia peroleh saat melalui momen-momen terpuruk semasa kuliah. Ia mengisahkan saat tahun ketiga kuliah pernah mengalami depresi karena banyaknya tekanan.

“Waktu itu sempat kepikiran buat nyerah. ‘Apa aku cuti aja ya’. Itu berat banget sih,” kisahnya.