KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Semasa mahasiswa, di era akhir 1980-an, Sriyadi tergolong produktif berkreasi. Sementara, di sisi lain, iklim Orde Baru (Orba) saat itu sangat represif terhadap mahasiswa yang kritis dan vokal. Terbukti, sejumlah lukisan Sriyadi disita oleh aparat keamanan lantaran muatannya yang mengkritisi situasi sosial masa itu.

“Waktu kuliah saya sudah aktif melukis. Biasanya masalah sosial. Banyak lukisan saya yang disita. Waktu itu nyimpannya tersebar, ada yang di Demangan, Blimbingsari, dan lainnya,” beber alumnus Fakultas Filsafat UGM angkatan 1987 di sela-sela pembukaan Pameran Seni Rupa “Membongkar Bingkai Membuka Sekat” Dies Natalis ke-68 UGM, Senin (11/12/2017) malam di PKKH UGM, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta.

Sriyadi yang memakai nama kreatif Sriyadi Srinthil pada masa kuliah di Kampus Biru dikenal sebagai tukang gambarnya mahasiswa aktivis dari Fakultas Filsafat UGM. Tema-tema lukisannya pun sarat dengan muatan kritik sosial. Kini, setelah rezim Orba tumbang, ia lebih bebas lagi dalam mengekspresikan ide dan imajinasinya ke dalam karya lukisannya.

Sriyadi mengikutsertakan empat lukisannya pada pameran bersama staf, dosen, dan alumni UGM untuk merayakan Dies Natalis ke-68 UGM. Dua di antara empat lukisannya yang dipamerkan mengambil objek presiden, yaitu Ir Sukarno dengan judul “Berdikari” dan Joko Widodo dengan judul” Jokowi”.

Ide melukis Presiden Joko Widodo muncul ketika Sriyadi menangkap kesan dari terpilihnya Jokowi di tengah situasi Indonesia yang kacau. Ia kemudian menganalogikan Jokowi sebagai pelukis baru yang tengah menghadapi lukisan Peta Indonesia yang kacau dengan bingkai dan kanvas lusuh dan warna-warna yang keruh. Tugas Jokowi merapikan dan membuat Peta Indonesia menjadi cerah penuh warna warni kembali.

Sriyadi Srinthil memilih aliran realis dengan masa penyelesaian selama satu bulan setiap lukisan. Selain Sukarno dan Joko Widodo, pemilik sebuah galeri di Ngadisuryan Yogyakarta ini juga pernah melukis  Soeharto, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

“Untuk tema tokoh biasanya saya ambil momentum saat itu,” ujar Sriyadi yang sedang berencana menyiapkan pameran tunggal tahun 2018. [rts]