KAGAMA.CO, BULAKSUMUR—Pukul sepuluh pagi kemarin Kamis (05/07/2018), ruang Sekolah Vokasi  225 ramai terisi sivitas akademika baik dari dalam maupun luar UGM. Libur perkuliahan tidak menghalangi mereka untuk datang menghadiri penayangan film ‘Sardjito dalam Lukisan Revolusi’ yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa D3 Kearsipan (HIMADIKA) UGM. Film dokumenter yang diproduksi oleh bagian Arsip UGM ini mengisahkan sisi lain dari sosok Sardjito yang selama ini kita kenal.

Film ini bercerita tentang peran Sardjito selama masa revolusi dalam kurun tahun 1945-1949. Cerita dimulai dua minggu setelah proklamasi kemerdekaan, ketika Sardjito diberi mandat untuk mengambil alih Institut Pasteur di Bandung. Sebagai seorang dokter lulusan STOVIA, Sardjito diniliai pemerintah mampu menangani lembaga medis itu.

Dengan adanya film ini diharapkan sosok Sardjito akan lebih dikenal, baik di dalam serta luar UGM.(Foto: Dok. Humas UGM)
Dengan adanya film ini diharapkan sosok Sardjito akan lebih dikenal, baik di dalam serta luar UGM.(Foto: Dok. Humas UGM)

Empat bulan berselang, Belanda yang belum menerima kemerdekaan Indonesia melancarkan serangan militer di berbagai kota di Indonesia, termasuk Bandung. Pada waktu ini, Sardjito diminta oleh pemerintah untuk mengungsikan Institut Pasteur dari Bandung menuju Klaten.

Hal itu karena instititut tersebut merupakan penghasil vaksin serta obat-obatan utama kala itu. Sardjito pun langsung bergerak untuk memindahkan seluruh barang yang bisa dibawa, termasuk vaksin beserta obat-obatan dengan kereta api.