Lintasi Hutan Naik Pesawat DC-9

15
Dewi Prawitasari punya jiwa petualang sehingga tidak takut menjelajah hutan belantara Kalimantan Tengah. Foto : Josep/KAGAMA
Dewi Prawitasari punya jiwa petualang sehingga tidak takut menjelajah hutan belantara Kalimantan Tengah. Foto : Josep/KAGAMA

KAGAMA.CO, JAKARTA – Lulus kuliah dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada pada tahun 1986, Dewi Prawitasari diterima sebagai pegawai negeri Departemen Kesehatan yang ditempatkan Direktorat Jenderal Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Tidak seperti kebanyakan orang yang cenderung memilih bekerja di tempat yang nyaman dengan infrastruktur lengkap dan tidak memiliki tantangan alam, dia justru memilih sebaliknya.

Dari tahun 1987 hingga 2005, Dewi melakoni pekerjaannya sebagai pegawai negeri di Kalimantan.

Di awal kariernya, dia bekerja di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

“Saya memasukkan lamaran di Departemen Kesehatan pada September 1986 dan diterima.”

“Bagian kepegawaian pun senang karena saya minta ditempatkan di luar Pulau Jawa.”

“Tahun 1987, saya dikirim ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah.”

“Saat itu Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Kalimantan Tengah menempatkan saya di BPOM Palangkaraya untuk menggantikan salah satu tenaga apoteker di sana yang hendak pindah,” tutur Dewi ketika ditemui KAGAMA beberapa waktu lalu.

Menurutnya, provinsi Kalimantan Tengah, luasnya satu setengah kali Pulau Jawa, saat itu minim jalan darat karena wilayahnya masih dipenuhi hutan belantara dan memiliki sungai-sungai besar nan luas dengan arusnya yang deras sehingga mayoritas daerahnya cuma dapat diakses lewat sungai atau udara.

Dia mengangkat lagi memori kala naik pesawat “DC-9”. Namun yang dimaksud Dewi bukanlah DC-9, pesawat penumpang sipil (airliner) bermesin jet ganda produksi perusahaan pembuat pesawat dari Amerika Serikat, McDonnell Douglas, yang pertama kali dibuat pada tahun 1965 hingga menjadi dasar dari pembuatan MD-80, MD-90, dan Boeing 717.

“DC-9 itu maksudnya pesawat kecil berbaling-baling yang kapasitasnya hanya bisa diisi sembilan orang.”

“Hal ini memunculkan istilah DC-9.”

“Pesawatnya cuma dapat terbang sedikit tinggi di atas pohon.”

“Kalau diterpa angin, pesawatnya bisa ikut arah angin, jika diterpa hujan pesawat terbang naik turun.”

“Maskapainya, Dirgantara Air Service (DAS),” kata wanita kelahiran Yogyakarta ini.

Bila dia berkunjung ke suatu kabupaten, rasanya seperti sudah pergi ke suatu provinsi seperti di Pulau Jawa.

“Bila pesawatnya terbang, kita masih dapat melihat hutan lebat di bawahnya.”

“Jika hujan deras, penumpang hanya bisa pasrah berdoa agar selamat.”

“Pesawat maksimal diisi sembilan orang termasuk pilotnya.”

“Kami dapat melihat kabin pilot, jika pesawat sudah stabil maka pilot nyantai sambil baca koran.”

“Waktu tempuh bila naik pesawat sekitar satu hingga satu setengah jam,” ungkapnya.

Bagi Dewi, bekerja merupakan ibadah sehingga dia tidak boleh mengeluh dan selalu bersyukur meski ada banyak tantangan.

“Untungnya jiwa saya adalah petualang sehingga tidak takut dengan kondisi yang ada.”

“Sesuai kata pepatah, di mana langit dijunjung di situ bumi dipijak.”

“Artinya, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.”

“Kalau tak dapat menyesuaikan diri maka kita bakal tersiksa,” pungkas Dewi. (Jos)