KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Liek Suyanto bukan sosok asing di dunia seni peran. Kepeduliannya pada anak muda menjadikannya instruktur Sanggar Archaeva, sanggar milik Program Studi D3 Kearsipan Universitas Gadjah Mada yang bergerak di bidang seni peran.

“Kegelisahan saya dengan anak muda yang membuat saya bersedia mengajar tanpa dibayar, jangan sampai anak muda terjerumus hal negatif,” ungkapnya, seperti ditulis Balkon edisi 146, Desember 2014.

Orang tuanya tak pernah membiayai pendidikan Liek Suyanto kecil. Hal itu memaksanya merasakan kesusahan hidup sejak dini.

Dibesarkan di lingkungan berandalan, Liek Suyanto sudah sering bergelut dengan kerasnya dunia. Namun, dunia Liek Suyanto berubah ketika takdir mempertemukannya dengan pimpinan Sanggar Bambu, Sunarto PM.

Liek Suyanto diajak bergabung dengan Sanggar Bambu. Pertama-tama, Liek Suyanto diperkenalkan dengan seni lukis.

“Saya pertama disuruh gambar sama pimpinan Sanggar Bambu, tapi saya nggak bisa, wong belum pernah gambar,” kenangnya.

Dari Sanggar Bambu, karya seni Liek Suyanto berlanjut. Liek Suyanto kemudian diizinkan mendalami seni peran yang sebenarnya bermula dari ketidaksengajaan.

“Dulu Bengkel Teater kurang satu pemain waktu pentas, terus saya ditunjuk untuk main,” katanya.

Saat itu, Liek Suyanto didaulat menjadi Pangeran Hamburg, dalam teater berlatar cerita daratan Bavaria oleh W. S. Rendra. Tak disangka, pementasan teater Pangeran Hamburg sukses.