PENDIDIKAN manajer, penyaluran dana untuk aktivitas nonpertanian, penyaringan kredit, monitoring kredit, dan penegakan pembayaran kredit merupakan sejumlah faktor yang berpengaruh positif  terhadap akumulasi asset dan keswadayaan dala memndukung keberadaan serta keberlanjutan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA). Sejumlah faktor itu diangkat Retno untuk penelitian dan penulisan disertasinya yang kemudian diberi judul “Efektivitas, Efisiensi, dan Keberlanjutan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) di DIY”.

Menurut Retno, Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) secara efektif mampu meningkatkan pendapatan petani. Pinjaman modal LKMA Gapoktan PUAP akan meningkatkan akses dan kapasitas modal petani dalam pembelian benih, pupuk, dan sarana prasarana produksi lainnya. Karenanya, ia berpendapat, lembaga tersebut perlu dilanjutkan dan dikembangkan.

Retno mempertahankan disertasinya berangkat dari asumsi bahwa efektivitas dan keberlanjutan LKMA dari sisi lembaga  dapat dilihat dari akumulasi aset, tingkat keswadayaan, dan kredit macet.

“LKMA Gapoktan PUAP perlu dilanjutkan karena efektif dalam meniningkatkan pendapatan petani, meskipun peningkatan tersebut relatif kecil yakni sebesar 5,03%,” kata Sekretaris KPU DIY, Retno Setijowati, Selasa (1/8/2017) di Fakultas Pertanian UGM.

Selanjutnya, untuk mengembangkan LKMA perlu diterapkan sejumlah strategi, seperti peningkatan kapasitas manajemen melalui pelatihan kelembagaan, merapikan administrasi dan manajemen, serta menerapkan manajemen kredit. Tidak kalah penting, melakukan pengelolaan kredit untuk aktivitas pengelolaan pascapanen dan distribusi hasil produksi. [Humas UGM/Ika/rts]