WISUDA Program Sarjana/Diploma Periode II Tahun Akademik 2016/2017 pada Kamis (16/2/2017) di Grha Sabha Pramana Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta  menjadi momentum tak terlupakan bagi Lekshman Raj Selvam (23), salah satu di antara delapan mahasiswa berasal dari Malaysia yang menempuh kuliah di UGM. Kepada kagama.co Lekshman menuturkan masa menyusun skripsi harus dilalui dengan berat.

WhatsApp Image 2017-02-16 at 13.29.46
Lekshman Tak Percaya Telah Lulus

“Mencari bahan (skripsi) saja susah. Apalagi, bertemu dengan dosen pembimbing,” ungkapnya mengenang.

Oleh karena itu, setelah semua tahapan bisa dilalui, Lekshman mengaku lega. Bahkan, ia tak percaya kalau dirinya kini telah mengantongi ijazah sarjana kedokteran gigi. Lekshman mengaku masuk Fakultas Kedokteran Gigi UGM karena di Malaysia reputasi UGM sangat baik.

“UGM pilihan pertama saya. Kalau saya tidak diterima di UGM, saya pilih di India,” imbuh Lekshman yang mengikuti prosesi wisuda bersama 1.794 Sarjana dan Diploma serta tujuh teman satu negara dengannya.

Selama 4,5 tahun kuliah di FKG UGM, Lekshman mengaku telah berdaptasi dengan makanan dan tipikal masyarakat Yogyakarta. Awalnya, putra bungsu dari  pasangan suami-istri Selvam Raju dan Valarmathi Balakrishnan asal Kuala Lumpur, Malaysia ini selalu kebingungan setiap mencari menu untuk makan sehari-hari. Ia mencari yang sesuai seleranya.

Sebaliknya, kini Lekshman mengaku menjadi penyuka nasi bakar dan penyetan tahu dan tempe. Lekshman yang sempat tinggal di Asrama Cemara Lima UGM Karanggayam pada tahun pertama kuliah dan mengontrak rumah bersama kawan-kawan senegaranya di Pogung Baru, Depok, Sleman, juga mengaku memiliki kesan yang baik tentang orang Yogyakarta.

“Orangnya ramah-ramah. Semoga sikap seperti itu juga ada di daerah lain selain Jogja,” katanya.

Setelah lulus Lekshman masih harus mengikuti pendidikan koas selama 1,5 tahun sembari menunggu pacarnya yang kuliah di FKU UGM menyelesakan studinya juga. Selanjutnya, ia harus pulang ke Malaysia. Menurut ketentuan pemerintah Malaysia, seorang dokter gigi yang belajar di luar negeri harus bekerja dengan pemerintah selama dua tahun untuk mendapat izin praktik. Tapi, tidak menutup kemungkinan ia masih akan melanjutkan studi S-2 atau spesialis. Ia mungkin akan kembali mendalami ilmu kedokteran gigi di almamaternya. (Taufiq Hakim/Wempi Gunarto)