Langkah Sigap Menlu Retno Marsudi Cegah Ketegangan Amerika Vs Timur Tengah

51
Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, bertindak demi membendung konflik antara Amerika Serikat dan Timur Tengah. Foto: Anadolu Agency
Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, bertindak demi membendung konflik antara Amerika Serikat dan Timur Tengah. Foto: Anadolu Agency

KAGAMA.CO, JAKARTA – Hubungan diplomatik negara adidaya Amerika Serikat dengan Timur Tengah sedang memanas dalam sepekan terakhir.

Ketegangan dipicu oleh serangan drone militer AS yang menewaskan Jenderal Senior Iran, Qassem Soleimani, di Baghdad, Irak, pada 3 Januari 2020.

Presiden AS, Donald Trump, disebut-sebut bertanggung jawab terhadap kematian Qassem Soleimani.

Akibat kasus ini, Iran melakukan aksi pembalasan lima hari berselang.

Mereka mengirimkan rudal ke pasukan AS yang berada di pangkalan Irak.

Tak cuma itu, beberapa jam berselang, Iran diduga menembaki pesawat penumpang Ukraina yang menewaskan 176 orang.

Menurut laporan media Inggris, Reuters, 57 orang di antaranya adalah warga Kanada.

Baca juga: Jalin Kerja Sama dengan Tiongkok, Indonesia Siap Jadi Raja Aluminium di Rumah Sendiri 

Meletusnya konflik yang melibatkan AS dan Iran ini membuat banyak warganet menyebut akan ada perang dunia ketiga.

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, tak tinggal diam melihat pergolakan barat dan timur tengah yang diwakili oleh kedua negara tersebut.

Alumnus Hubungan Internasional UGM ini mengaku sudah melakukan langkah sigap.

Retno mengaku Indonesia telah berbincang dengan AS dan Iran di tingkat Dewan Keamanan.

Indonesia juga dituturkan dia telah melakukan upaya dengan mengirim utusan dan mendorong berbagai pihak agar peningkatan ketegangan tidak terjadi.

“Saya melakukan pembicaraan via telepon pada tanggal 8 malam, berarti 9 pagi, karena pada saat itu Menteri Luar Negeri Vietnam baru mendarat di New York,” tutur Menlu Retno pada Minggu (12/1/2020), melansir laman resmi Jaringan Pemberitaan Pemerintah RI.

“Vietnam untuk bulan Januari ini bertindak sebagai Presiden dari Dewan Keamanan PBB.”

Baca juga: Pulang dari UEA, Presiden Jokowi Teken Proyek Rp312,7 Triliun