Kunci Keberhasilan Apoteker Hadapi Revolusi Industri 4.0 Menurut Dirjen Farmalkes RI

52

Baca juga: Ide Berdirinya Fakultas Perhubungan dan Pengangkutan di UGM Tempo Dulu

Kedua, dari rantai pasok global menjadi supply unchained. Seain itu ada konsolidasi multi komponen, produksi dan penggunaan on the spot, rasio tinggi antara output produksi dengan ruang yang terpakai, hingga produksi terdistribusi dan reshoring.

Engko ingin membuat terobosan dalam pelayanan kefarmasian.

Namun, Indonesia masih mengalami berbagai kendala kualitas SDM, di antaranya kurangnya tenaga kefarmasian di faskes, belum optimalnya penerapan standar pelayanan kefarmasian.

Kendala lain yaitu belum optimalnya evaluasi penggunaan obat, belum adanya kolaborasi yang baik antar tenaga kesehatan, serta masih tingginya penggunaan antibiotik yang tidak bijak.

“Lalu siapkah kita? Saat ini kita berhadapan dengan konektivitas, kecerdasan buatan, dan big data. Sementara SDM masih perlu berbenah. Ketiganya bakal menjadi ancaman jika tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya,” tandas Engko.

Baca juga: KAGAMA Riau Beri Bantuan Korban Kabut Asap

Apalagi di era disrupsi ini ada risiko otomatisasi terhadap kebutuhan tenaga kerja, tak terkecuali profesi apoteker.

“Dalam beberapa dekade ke depan Indonesia berisiko kehilangan 40,8 persen dari tenaga kerjanya akibat otomatisasi,” ujarnya.

Untuk itu, penting bagi apoteker untuk meningkatkan kompetensinya.

Institusi pendidikan sebagai salah satu tempat yang melahirkan SDM, diharapkan dapat bertransformasi, berkolaborasi dan berkomunikasi dalam memecahkan masalah, serta memiliki kecakapan sosial dan emosional.

Engko juga membabar kunci keberhasilan, khususnya bagi apoteker untuk menghadapi era disrupsi.

Menurut Engko, kuncinya yaitu pengembangan humanistic dan digital skills, selalu coba dan terapkan prototype teknologi baru, bangun kolaborasi baru, dan kurikulum berbasis human digital skills.

“Masyarakat, industri dan akademisi perlu berkolabirasi dalam mengidentifikasi ketersediaan SDM bagi era digital,” pungkasnya. (Kinanthi)

Baca juga: UGM Wujudkan Mimpi Desa Terpencil Sulawesi Tengah Nikmati Listrik