Kunci agar Jamu Bisa Merebut Pasar Dunia Menurut Alumnus Farmasi UGM

266

Baca juga: Ketua KAGAMA Bogor Raya Sebut Jargon ‘Guyub Rukun Migunani’ Tak Pernah Salah

“Jepang sukses dengan strategi ini. Kini kita mengenalnya dengan nama teh Matcha,” jelasnya.

Jika di Jepang identik dengan teh, Arab Saudi akrab dengan produk kurma dan susu unta.

“Buah kurma adalah product branding yang kuat untuk makanan dengan kandungan gizi yang tinggi,” kata Karyanto.

“Ini sudah menyebar ke berbagai negara, khususnya di negara-negara mayoritas muslim,” terangnya.

Karyanto menilai, Indonesia sebetulnya sudah punya pengalaman untuk bisa membawa jamu ke pasar obat herbal di kawasan ASEAN.

Beberapa perusahaan dibilangnya telah sukses membuat produk lokal dikenal di dunia internasional.

Seperti Dexa Medica, Kalbe Farma, Martha Tilaar Group, Sido Muncul, Deltomed, Industri Jamu Borobudur, Kino, Air Mancur, serta Jamu Jago.

Baca juga: Sosiolog UGM Ungkap Kunci Penting Mengatasi Permasalahan Desa di Tengah Pandemi Covid-19

Apalagi, katanya, kawasan ASEAN kini tidak luput dari fenomena back to nature.

Karyanto memberikan contoh, di Manila, Filipina, banyak dokter yang mengapresiasi produk herbal Indonesia yang sudah teruji secara klinis.

Hal tersebut dipandang Karyanto merupakan potensi besar buat Indonesia.

“Mereka meresepkan obat herbal yang sudah teruji klinis. Yang menjadi pertimbangan utama adalah  dukungan uji ilmiah.”

“Tidak mempersoalkan, dari mana asal produk itu diproduksi,” cetus Karyanto.

Karyanto lantas menyebut tiga strategi selain dari product branding agar produk Indonesia bisa masuk ke pasar global.

“Pertama, ciptakan nilai tambah pada produk obat herbal Anda, dan bangun tim yang kuat untuk memasarkan.”

“Inilah langkah yang harus dilakukan. Perlu juga, mempertimbangan untuk menyesuaikan ’selera’ permintaan konsumen lokal tempat destinasi produk Anda,” katanya.

Kedua, tutur Karyanto, menetapkan taktik dan strategi promosi yang tepat dan memilih partner bisnis yang handal.

Jikalau sudah mampu, perusahaan di setiap negara tujuan eskpor dapat didirikan.

“Ketiga,  jangan melupakan pasar diaspora Indonesia. Diaspora Indonesia tersebar di berbagai kawasan dunia.”

“Berdasarkan data dari situs diasporaindonesia.org, jumlah diaspora Indonesia sekitar delapan juta orang tersebar di berbagai negara,” pungkasnya. (Ts/-Th)

Baca juga: Bupati Kutai Timur Alumnus UGM Luncurkan Aplikasi My Aspal Pengganti Pasar Ramadan