Kualitas SDM Terbatas, Dua Sociopreneur Muda Bangun Startup Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

107

Baca juga: Cara Sederhana Agar Hasil Panen Kayu Berkualitas

Sejak saat itu ia mulai mencintai dunia teknologi.

Diceritakan olehnya, saat berniat mendaftar kuliah, ekonomi keluarga Alamanda sedang jatuh, karena ayahnya harus berobat.

Ketika itu, yang bisa dilakukan Alamanda hanya membuat website.

Ia berusaha mendapatkan penghasilan dengan kondisi yang sangat terbatas.

“Sampai suatu ketika ada teman yang minta saya bikinin website, jadilah website-nya. Sejak itu banyak yang order website ke saya,” ujar Alamanda.

Baca juga: Wujudkan Smartcity, Pakar UGM: Masyarakat Perlu Literasi Digital

Pada usia 21 tahun, Alamanda mendirikan perusahaan pertamanya, sebagai provider website.

Namun, karena merasa bekal untuk menjadi entrepreneur-nya masih kurang, Alamanda memutuskan untuk bekerja dulu di sebuah perusahaan.

“Saya teringat dengan perkataan bapak. Untuk bekerja dengan orang pun Saya harus memulai dari nol. Boleh saja kita melangkah cepat, tapi di setiap tahapnya ada lesson yang harus benar-benar kita pahami,” pungkasnya.

Waktu itu Alamanda berperan sebagai orang yang meramu ide-ide inovasi dari Nadiem Makarim di Gojek.

Ia merasa bangga pernah menjadi bagian dari Gojek, apalagi dirinya juga punya peran saat perusahaan decacorn itu masih dalam tahap perintisan.

Baca juga: Cerita Bambang Purwoko Mendidik dan Tinggal Bersama Anak-anak Papua