Konflik Papua Kian Masif di Tengah Gencarnya Pembangunan, Mengapa?

146

Baca juga: Siswa Papua Menggapai Asa

“Melihat progres dari data makro, di Papua kualitas orang yang lulus SMA setara dengan kelas 3 SD (di Jawa), dilihat dari perkembangan baca, tulis, dan hitung,” ungkap Lele.

Penduduk Asli Papua Tak Menikmati Kekayaannya

Mohtar menafsirkan  konflik ini merupakan kekerasan.

Dalam hal ini orang-orang yang berkonflik itu tak bisa mengaktualisasikan potensinya karena berbagai macam gangguan.

Dipaparkan oleh Mohtar, desa atau kelurahan di Papua menjadi daerah yang mengalami konflik massal tertinggi di Indonesia tahun 2018.

Di satu sisi Papua merupakan negeri yang kaya.

Baca juga: Dilema Pendidikan Papua

Mereka mempunyai kontribusi terhadap perekonomian Indonesia, terutama dari PT. Freeport. Sedangkan dari sisi Human Development Indeks di tingkat provinsi, Papua masih tertinggal jauh.

“Papua penghasil banyak hal. Tetapi hanya sedikit penduduk lokal yang bisa menikmatinya. Penduduk asli jadi minoritas di wilayahnya,” jelas Mohtar.

Kompetisi Berbenturan dengan Pemerataan

Perkembangan zaman yang menuntut masyarakat untuk berkompetisi cukup memberikan tekanan.

Kompetisi, kata Mohtar, berbenturan dengan pemerataan.

Orang bersaing karena ketimpangan dihalalkan.

Baca juga: Kagama Papua Barat Ajak Seluruh Alumni Bangun Tanah Papua