“Secara matematis, saya sebenarnya tahu kalau gak mungkin menang, tapi saya kira langkah tersebut bisa dijadikan pembelajaran politik sekaligus cara saya untuk kembali ke Yogyakarta”, tutur Yoyok mengenang masa lalunya.

Ternyata dugaan Yoyok benar. Ia gagal bertanding dalam Pilkada. Bahkan pasangannya, Akhi Adisakti meninggal sebelum Pilkada dilaksanakan. Seiring berjalannya waktu, Yoyok menjadi paham bahwa keinginannya kembali ke Yogyakarta melalui jalur politik tidak berarti ia bisa mundur dari tugasnya sebagai polisi.

Mengawal Ketua PP KAGAMA Ganjar Pranowo saat Nitilaku UGM 2017. (Foto: Istimewa)
Mengawal Ketua PP KAGAMA Ganjar Pranowo saat Nitilaku UGM 2017. (Foto: Istimewa)

“Waktu itu saya mengajukan pensiun dini tapi ditolak.Ternyata belum ada aturan yang mengatur pensiun dini bagi TNI-Polri yang maju ke Pilkada melalui jalur independen. Sehingga saya di sini (Jogja) ditetapkan sebagai Pamen (Perwira Menengah—red) bidang sumberdaya manusia”, ujarnya menjelaskan.

Namun demikian, tiada hasil yang mengkhianati usaha. Di saat ia gagal mendapatkan pensiun dini, UGM membuka lowongan sebagai Kepala PKKKL. “Tahun 2017 saya mendaftar, dan Alhamdulillah diterima”, kata Yoyok sambil tertawa riang. Dengan diterimanya Yoyok sebagai kepala PKKKL, ia pun menyandang status sebagai polisi yang dikaryakan di kampus negeri.