Kisah Stefanie Juergens yang Temukan Belahan Hatinya di Kampus Kedokteran UGM

451
Takdir membawa perempuan asal Jerman, Stefanie Juergens, bertemu dengan jodohnya di FKKMK UGM. Almarhum Prof. Iwan Dwiprahasto merestui cinta keduanya. Foto: Dok Pri
Takdir membawa perempuan asal Jerman, Stefanie Juergens, bertemu dengan jodohnya di FKKMK UGM. Almarhum Prof. Iwan Dwiprahasto merestui cinta keduanya. Foto: Dok Pri

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Stefanie Juergens mungkin tak pernah menduga bakal menyeberang 11.530 km menuju Jogja.

Nanie, begitu panggilan akrabnya, tengah mengobrol bersama sang orang tua di rumahnya, Arnsberg, sebuah distrik di negara bagian Rhine Utara-Westphalia.

Obrolan yang terjadi sekitar 15 tahun lalu itu membincangkan soal kelanjutan studi Nanie.

Kala itu, Nanie baru saja lulus SMA. Tak perlu berpikir lama-lama, Nanie langsung bilang kepada orang tuanya bahwa dia ingin masuk kedokteran.

Menjadi dokter sudah jadi cita-citanya sejak kecil, meskipun latar belakang keluarga bukan dari kesehatan.

Baca juga: Program Desa Inklusif KAGAMA Kaltim Ingin Atasi Kemiskinan di Desa Karya Jaya, Samboja

Ayah Nanie, Reiner Juergens, adalah seorang CEO perusahaan lampu. Sedangkan Nyonya Juergens adalah ibu rumah tangga.

“Orang tua saya awalnya bilang ‘kamu beneran pengen masuk dokter, gak mau yang lain dulu?’” tutur Nanie saat dijumpai Kagama, belum lama ini.

“Tapi karena saya sudah bilang mau dokter, maka diberikanlah supportnya,” sambungnya.

Takdir ternyata belum berpihak kepada Nanie. Nilai ujian masuk universitas yang dia raih sebetulnya cukup bagus.

Namun, nilai itu tidak terlalu bagus untuk masuk ke kedokteran. Nama Nanie pun masuk waiting list.

Baca juga: Melihat Canthelan di Bekasi yang Disulap Teguh WS Jadi Pasar Noceng