Kisah Hardjoso Prodjopangarso, dari Hampir Dihukum Mati Penjajah hingga Segudang Karya Teknologi untuk Rakyat

Prof. Hardjoso sedang menerangkan teknologi tradisional di kelas.(Foto: FT UGM)
Prof. Hardjoso sedang menerangkan teknologi tradisional di kelas.(Foto: FT UGM)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Zaman penjajahan adalah masa yang mengharuskan setiap masyarakat Indonesia untuk membela negaranya. Begitu pula Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso, pria kelahiran Solo, 09 Mei 1923 ini juga ikut berjuang melawan penjajah saat masih kuliah.

Saat itu semua kaum intelektual diwajibkan untuk ikut berjuang. Mahasiswa dulu tugasnya tidak hanya belajar. Saat itu Hardjoso berpangkat Brigadir 17, Ia merupakan salah seorang yang merampas dan membawa mobil jip jepang untuk mengantarkan obat-obatan Prof. Sardjito ke PMI.

Selama masa perjuangan, Hardjoso pernah dipenjarakan di Malang dan hampir dihukum mati. Untungnya saat hendak dieksekusi, ada orang Belanda yang menyelamatkannya dengan alasan Hardjoso harus melanjutkan pendidikannya.

Dyah Ekaningsih dan Etiningsih.(Foto: Maulana)
Dyah Ekaningsih dan Etiningsih.(Foto: Maulana)

Teknologi untuk Rakyat

Setelah masa penjajahan, Hardjoso berhasil membuat berbagai penemuan. Temuan itu antara lain adalah Pengairan  pasang surut di Kalimantan. Berdasarkan cerita Dekan Fakultas Teknik Prof. Ir. Nizam, M.Sc., Ph.D., penemuan Hardjoso berasal dari hasil observasinya dengan melihat kebiasaan bertani masyarakat Suku Dayak.

“Bahkan untuk membantu masyarakat Pak Hardjoso menggunakan uang  pribadinya. Saya masih ingat kata-kata beliau sewaktu pelajaran di kelas, seorang insinyur harus memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk masyarakat,” kenang Nizam, yang juga mahasiswa Hardjoso.

Pesan yang diteladani Nizam dari Hardjoso antara lain yaitu setiap insinyur hendaknya menggunakan profesionalitas dan intektualitasnya untuk menjadi bagian dari solusi di masyarakat. “Harus mengalir ke bawah, tidak menjadi mercusuar tapi menjadi mata air,” tuturnya.

Karya-karya Hardjoso yang telah disumbangkan untuk bangsa dan negara antara lain Tripikon-S (tangki septic untuk daerah rawa) pada 1989, Subromarto (bangunan pembakaran sampah) pada 1990, Nalareksa (alat menganalisa udara) pada 1992, Ki Panca Sihir, Nyi Bunga Sihir dan Cak Kilang Sihir (alat pembersih air tanpa bahan kimia) pada 2001-2003, Jumantara (stasiun cuaca kecil) pada 2004, dan Laboratorium Lapangan Kawasan Teknologi Tradisional di kawasan UGM.