KAGAMA.CO, BULAKSUMUR—Manusia tidak pernah bisa memilih terlahir dari orang tua seperti apa. Lahir di keluarga kaya raya, berkecukupan, atau bahkan dari keluarga kurang mampu.

Namun, bukan berarti setiap orang lantas tidak bisa memilih jalan hidup yang akan dijalani. Seperti Dea Mandasari (18) yang tidak pernah mengeluh terlahir dalam keluarga yang serba pas-pasan. Dia memilih tetap berjuang dalam keterbatasan untuk menggapai impian.

"Apa pun saya kerjakan yang penting halal. Selagi masih kuat akan mengusahakan yang terbaik bagi anak-anak," ucap Tukino.(Foto: Dok. Firsto)
“Apa pun saya kerjakan yang penting halal. Selagi masih kuat akan mengusahakan yang terbaik bagi anak-anak,” ucap Tukino.(Foto: Dok. Firsto)

Meskipun ayahnya hanyalah seorang tukang parkir, Dea tidak merasa minder memiliki cita-cita tinggi untuk bisa mengenyam bangku kuliah. Alhasil, usaha dan ketekunannya dalam belajar berhasil mengantarkannya diterima di Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM tanpa tes.

Dea merupakan anak ke-2 dari empat bersaudara. Merupakan puteri pasangan Turino Junaidi  dan Sadati. Sang ayah sehari-hari menjadi tukang parkir di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sementara istrinya membantu menopang perekonomian keluarga dengan berjualan pulsa.