BULAKSUMUR, KAGAMA – Mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada  (UGM) Tahun Akademik 2017/2018 adalah anak-anak terbaik di Republik Indonesia saat ini. Mereka berhasil melewati proses seleksi yang sangat ketat dan tidak mudah. Karenanya, dari mereka, di kemudian hari, benar-benar memersiapkan diri untuk bangsa dan negara. Mengingat, saat ini bangsa Indonesia tengah menghadapi tantangan di segala sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satunya, tantangan ideologi, khususnya dalam menyikapi ideologi asing agar tidak terkontaminasi.

Ketua Umum Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP Kagama) Ganjar Pranowo, S. H. MIP. mengungkapkan hal itu kepada kagama.co, Minggu (6/8/2017) malam usai mengikuti Malam Ramah Tamah bersama Kepala Staf  TNI Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S. IP.    dan Rektor UGM Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng. di Balairung UGM, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta.

Pernyataan Alumnus Fakultas Hukum UGM yang kini menjabat Gubernur Jawa Tengah itu disampaikan sebagai harapan kepada mahasiswa baru UGM Tahun Akademik 2017/2018 yang mulai Senin (7/8/2017) pagi mengikuti Pembukaan Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) Palapa 2017 di Lapangan Grha Sabha Pramana (GSP) UGM.

“Tentu mereka adalah anak-anak terbaik Republik, ya. Seleksinya tidak mudah. Maka, kita harapkan mereka adalah anak-anak yang  kita persiapkan betul. Mereka harus mempersiapkan diri untuk bangsa dan negara. Tantangan ideologi sekarang luar biasa. Bagaimana mencintai Indonesia dengan benar, dengan baik. Tidak contaminated dengani deologi lain,” ujarnya.

Lebih lanjut Ganjar mengutip pernyataan mendiang Presiden RI pertama Ir. Sukarno, dengan pernyataannya, “berdaulat dalam bidang politik”. Maka, dikatakannya, hari ini generasi muda serta semua anak bangsa tengah diuji pada persoalan ideologi. Karenanya, Ganjar juga berharap, mahasiswa baru di Kampus Pancasila ini tidak hanya diajarkan dari sisi ilmu pengetahuan saja, melainkan juga metode pengajaran yang memotivasi dalam hal membangkitkan semangat untuk mencintai tanah air, menghormati guru/dosen, mencintai orangtua. Yakni, melalui pendidikan budi pekerti yang lebih dikedepankan.

“Karena, UGM ini kampus kerakyatan. Kita lihat seperti inilah (menunjuk keaudiens di Balairung UGM –red), mereka di mana pun di seluruh dunia, yang saya temui selalu low profile, selalu punya budi pekerti yang baik. Kita harapkan nanti adik-adik yang masuk ini akan mendapatkan itu di sini,” harapnya penuh optimis. [TH]