Ketua KAGAMA Kaltim Ini Rela Lepas Status PNS Dokter Gara-gara Baca Buku

8800
Ketua KAGAMA Kalimantan Timur, dr. Joko Martono, membeberkan alasan berhenti jadi PNS. Foto: Istimewa
Ketua KAGAMA Kalimantan Timur, dr. Joko Martono, membeberkan alasan berhenti jadi PNS. Foto: Istimewa

KAGAMA.CO, KALTIM – Penampilan Ketua KAGAMA Kaltim, Joko Martono, yang kini terlihat nyentrik, menyimpan sebuah lika-liku kisah kehidupan.

Sebab, Joko lahir dari keluarga yang amat sederhana.

Kesederhanaan ini pun berlanjut saat dia menimba ilmu di Fakultas Kedokteran (sekarang FKMK) UGM pada 1988.

Waktu itu, anak ke-11 dari 12 bersaudara ini mesti bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Yang penting dapat uang harian. Mulai dari jadi kernet, pembantu tukang bangunan, ‘ngamen’,  jaga toko foto copy, hingga menjadi ‘spesialis’ panitia seminar di kampus karena mendapat honor,” tutur Joko kepada Kagama beberapa waktu lalu.

Sosok kelahiran Jogja 50 tahun ini mengakui, selain mendapatkan beasiswa, kakak-kakaknya juga berandil dalam memberikan bantuan agar kuliahnya bisa berlanjut.

Bahkan, Joko ingat tugas akhir kuliahnya mungkin tidak akan terwujud tepat waktu tanpa mengikuti proyek penelitian dari dosen.

Dilantik sebagai Ketua Umum Pengda KAGAMA KALTIM(2019-2024). Foto: Istimewa
Dilantik sebagai Ketua Umum Pengda KAGAMA KALTIM(2019-2024). Foto: Istimewa

Baca juga: Seleksi CPNS Dijamin Aman, Tak Ada Celah Percaloan

“Kadang orang pintar kalah dengan orang yang beruntung,” ucap

sosok yang aktif di Senat Mahasiswa FK UGM pada 1990-1991 ini, berkelakar.

Setelah menjalani perkuliahan dan program keprofesian selama enam tahun, Joko resmi dilantik sebagai dokter pada 1995.

Pada tahun itu juga, pria yang gemar bernyanyi dan berolahraga ini memutuskan hijrah ke Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap).

Di sinilah karier Joko sebagai dokter dimulai dengan bertugas di Puskesmas Sambaliung, Kabupaten Berau.

Dia lantas mencoba peruntungan menjadi dokter di perusahaan swasta, PT. Kiani Kertas, Berau (1998-2001).

Dua setengah tahun di PT Kiani Kertas, ayah tiga orang anak ini diangkat sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil, sekarang ASN) di salah satu rumah sakit provinsi di Kaltim.

Baca juga: Resmikan 8 Sekolah dan Masjid di Palu, Ganjar Usul Siswa Diberi Latihan Tanggap Bencana