DRA. Rahma Iryanti, M.T. saat ini menjabat sebagai Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan. Lulusan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM atau yang dulu dikenal dengan nama Fakultas Ekonomi angkatan 1977.

“Saya ini sudah angkatan tua. Dulu saya masuk UGM tahun 1977. Dulu, saya masih kuliah di Gedung Pusat dan masih diajar oleh Prof. Boediono,” ungkapnya ditemui di Auditorium BRI MSi FEB UGM usai mengisi diskusi publik “Menjawab Tantangan Sektor Jasa Indonesia”, Jumat (9/3/2018).

Acara yang diselenggarakan oleh  Kantor Staf Presiden bekerja sama dengan The Organisation for Economic Co-operation (OECD) dan FEB UGM itu mengundang Iryanti sebagai pembahas bersama Prof. Ainun Na’im selaku Sekretaris Jendral Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia dan Drs. Agus Triyanto, A.S., M.M. selaku Kepala Pusat Ketenagakerjaan di Kementrian Ketenagakerjaan Republik Indonesia.

Selepas acara Iryanti masih berada di ruangan sembari berdiskusi dengan mahasiswa yang bertanya kepadanya secara pribadi. Ia menyambut mahasiswa tersebut dengan baik dan ramah. Wanita berambut pendek ini, juga memberikan kiat agar setelah kuliah mahasiswa dapat langsung memasuki dunia industri.

“Kuncinya adalah kerja sama dengan industri atau dunia usaha, karena merekalah yang akan membuka usaha apa yang akan dibutuhkan oleh perusahaan itu,” paparnya.

Ia juga menambahkan, untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah turut serta menggandeng lemba pendidikan dan industri. Maka, terbentuklah sebuah konsep, yaitu ABG yang terdiri dari Akademisi, Busines, dan Government. Perguruan tinggi sebagai pencetak Sumber Daya Manusia (SDM), Pemerintah sebagai regulator, dan industri yang akan menerima SDM tersebut.

Iryanti menambahkan, selain regulasi yang baik antara ketiga pihak, mahasiswa sebagai SDM  harus memenuhi standar dan kualifikasi. Iryanti juga memaparkan tiga hal yang harus dipersiapkan  untuk mencapai kompetensi dasar di industri. Mulai dari standar kompetensi, penetapan kurikulum, dan pemberian sertifikat.

“Tiga hal yang harus dipersiapkan, yaitu standar kompetensi untuk semua jenis industri, kemudian untuk lembaga pendidikan atau pelatihan juga disiapkan sesuai dengan kurikulum yang disusun oleh industri, dan dilakukan uji kompetensi agar tenaga kerja memiliki sertifikat yang diakui,” ungkapnya.

Tidak lupa Ia bercerita tentang masa perkuliahannya dulu. Semasa kuliah Iryanti sangat senang mengikuti seminar-seminar dan riset. “Saya dulu senang mengikuti seminar-seminar nasional yang diadakan UGM. Saya juga senang mengikuti mini riset. Dulu ada Lembaga Pengembangan Ekonomi yang direkturnya Pak Boediono,” kenangnya.

Walapun sering mengikuti seminar dan riset-riset selama kuliah, wanita yang dilantik pada 2017 mengaku tidak mengikuti organisasi kemahasiswaan mana pun. Tetapi, setelah lulus dari jurusan Studi Pembangunan yang sekarang berganti nama menjadi Ilmu Ekonomi, Iryanti bergabung dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dan sampai sekarang menjadi pengurus pusat. [TAUFIQ HAKIM]