Keraton Yogyakarta Capai Kemajuan Pesat di Era Sultan HB II

47

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Penelitian secara arkeologis untuk sejarah berdirinya Keraton Yogyakarta sangat sulit dilakukan. Pasalnya, semua harta kekayaan Keraton Yogyakarta habis dirampok Raffles yang masuk Nusantara, khususnya Yogyakarta pada 1812 yang dikenal dengan Geger Spehi atau Perang Spoy. Satu-satunya harta yang tersisa – mengutip Peter Carey – sebuah Kitab Suci Al Quran mushaf Keraton Yogyakarta.

Ketua Dewan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Dr Djoko Dwiyanto, M. Hum. mengungkapkan hal itu dalam forum Dialog Budaya dan Gelar Seni Yogya untuk Semesta ke-102, Selasa (31/10/2017) malam di Balai Kepatihan, Yogyakarta. Turut hadir sebagai narasumber adalah ustadz K.H. Muhammad Jazir ASP, pakar spiritual Yoyok Suharto, SE, MM alias Gus Salam, dan musikus Andi Bayou.

Forum bulanan yang sudah dihelat hingga ke-102 sebagai upaya menguatkan pengusulan Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) II atau Sultan Sepuh sebagai Pahlawan Nasional serta ikut mensyukuri Pelantikan Gubernur DIY Periode 2017-2022. Forum tersebut  dipandu oleh moderator Hari Dendi didampingi co-moderator Wibbie Mahardhika, S. Fil. Selain itu, dimeriahkan pula oleh musikalisasi puisi yang dibawakan ustadzah dan penyair R. Ay. Sitoresmi Praboeningrat serta gelar seni munajat tari Ambeksa Shalawat Bawana oleh Komunitas Joged Shalawat Mataram.

Djoko Dwiyanto menambahkan, meski sulit dilacak secara arkeologis, namun dari khazanah kesusastraannya dapat diidentifikasi adanya tradisi literer yang sudah dirintis Sultan Hamengkubuwono (HB) I, yaitu olah seni susastra semakin produktif memasuki era pemerintahan Sultan HB II, antara lain diciptakannya Serat Surya Raja, yang kelak menginspirasi Sultan HB IX saat menghadapi Belanda.

“HB II disimbolkan seperti Kumbakarna dalam Kumbakarna Gugah, dikisahkan sebagai Senapati terakhir yang diberi tugas kakaknya, Dasamuka. HB IIdiperintah sebagai panglima dan langsung menyatakan siap memilih berjuang untuk negerinya daripada kepentingan pribadinya,” urai Dosen Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM ini.

Sementara, diuraikan pula oleh Jazir ASP secara detil sosok dan perjuangan HB II. Dari profil dan sosok pribadinya, HB II yang dibri nama kecil Raden Mas Sundoro merupakan seorang patriot, seniman, tapi juga teknokrat. Kelahirannya pun menumbuhkan semangat Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan HB I dalam menghadapi VOC hingga mampu menwaskan Mayor Jenderal de Klerk di kawasan Bogowonto. Kematian de Klerk akhirnya mengubah sikap VOC hingga mengajak berunding dengan menyepakati Perjanjian Gianti. Sundoro yang saat itu masih berusia lima tahun pun sudah dimasukkan nama dan tanda tangannya dalam perjanjian tersebut dalam status sebagai penerus tahta Sultan HB I dengan gelar Adipati Anom.

“Setelah jadi Sultan, HB II mmpu memanfaatkan potensi sumber daya alam, seperti batuan gamping. Arsitektur indah dengan batu gamping berkembang di era HB II sehingga orang Perancis menyebut Yogyakarta sebagai Versailles of Java. Keraton Yogya dibangun dikelilingi benteng tinggi. Pintu keluar-masuknya sebagai jembatan karena di sekeliling benteng keraton dibuat selaokan cukup lebar dan dalam. Saat itu Yogyakarta sudah berkembang menjadi kota pariwisata dan mencapaikemajuan yang pesat. Sementara, Surakarta saat itu sudah kumuh, ujar Jazir. [rts]