Keraton Jadi Saksi Komitmen UGM Kembangkan Intelektualitas

1

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Berdirinya perguruan kebangsaan Universitas  Gadjah Mada (UGM) tidak dapat dilepaskan dari peran dan keberadaan Keraton Yogyakarta. Keraton pada 1949 menjadi saksi bagi aktivitas mahasiswa angkatan pertama yang mengawali perkuliahan di UGM.

Ketua Umum PP Kagama Ganjar Pranowo mengungkap hal itu dalam pidato sebelum melepas para peserta Nitilaku 2018, Minggu (16/12/2018) di Pagelaran Keraton Yogyakarta. “Keraton juga jadi saksi semangat serta komitmen yang digagas UGM ketika pertama kali berdiri, enam puluh sembilan tahun yang lalu,” ucap Ganjar.

Ganjar menambahkan, Nitilaku merupakan momentum untuk mengingatkan kita pada sejarah. Juga, pada pepatah kacang ora lali kulite. Sehingga, kita selalu ingat pada asal-usul kita. “Dengan menyusuri jejak perjalanan melewati kampung-kampung dalam kegiatan Nitilaku, kita dapat merefleksikan kembali semangat intelektual dan pengabdian masyarakat yang dibawa UGM selama ini,” terangnya.

Nitilaku 2018 yang digelar dalam rangkaian acara Dies Natalis ke-69 UGM diikuti sedikitnya 2.500 orang. Mereka bertolak dari Pagelaran Keraton Yogyakarta dan berkumpul di Alun-Alun Utara Yogyakarta untuk mengikuti pawai kebangsaan Nitilaku 2018.

Para peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, yakni sivitas akademika UGM, alumni UGM, serta masyarakat Yogyakarta, juga dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka mengenakan berbagai macam pakaian adat dengan gaya busananya masing-masing.

Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng., menambahkan bahwa melalui momentum Nitilaku, mengingatkan UGM perlu untuk selalu mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Keraton karena telah diberi kesempatan untuk tumbuh. Oleh karena itu, melalui kegiatan Nitilaku 2018, UGM menggalang kerja sama antarberbagai pihak untuk bersatu memajukan pendidikan dan kejayaan Indonesia.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X yang juga alumnus Fakultas Hukum UGM berharap dengan adanya Nitilaku  UGM tidak berubah dari komitmen serta semangat pengabdian yang diusungnya ketika berdiri. “Semoga UGM akan terus untuk betul-betul mengabdi kepada negeri, tidak memedulikan ras serta suku mana yang membutuhkan,” harapnya memungkasi pidato sekaligus menandai dimulainya perjalanan pawai kebangsaan.

Para peserta kemudian memulai pawai kebangsaan dengan tujuan akhir di Lapangan Grha Sabha Pramana (GSP) UGM. Sesampainya di UGM, mereka disambut dengan jejeran berbagai stan kuliner nusantara yang disajikan oleh berbagai fakultas di UGM. Selain makanan, mereka juga dihibur dengan penampilan dari berbagai kelompok seniman,  baik dari UGM maupun luar UGM.

Nitilaku 2018 ditutup dengan penyerahan pataka UGM dan fakultas-fakultasnya yang dibawa dari Keraton kepada perwakilan UGM yang diwakili oleh Rektor serta seluruh Dekan di UGM.  [RTS/Sumber :  Bagian Humas dan Protokoler UGM]