Kenangan Bersama Sosok Umar Kayam Semasa Kuliah di UGM

105
Kenangan Benito Rio Avianto kepada sosok Umar Kayam. Benito merupakan alumnus Magister Ekonomika Pembangunan (MEP) UGM yang kini bekerja di Kemenko Perekonomian RI. Foto: Dok Pri
Kenangan Benito Rio Avianto kepada sosok Umar Kayam. Benito merupakan alumnus Magister Ekonomika Pembangunan (MEP) UGM yang kini bekerja di Kemenko Perekonomian RI. Foto: Dok Pri

Oleh Benito Rio Avianto, SST, M.Ec.Dev*

 

JAKARTA – Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jakarta tahun 1990, saya membaca buku berjudul “Mangan Ora Mangan Kumpul” karya Umar Kayam, Dosen Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM), yang juga Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebuayaan RI.

Buku itu merupakan kumpulan tulisan beliau yang pernah dimuat Harian Kedaulatan Rakyat (KR) Yogyakarta, koran legendaris Jogja. Saat membaca judul buku itu, ada perasaan menggelitik untuk membaca buku itu, saya sangat terkesan untuk mengetahui isinya. Apalagi judul buku itu sangat akrab menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia.

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku itu dan larut dalam kenikmatan membacanya. Buku itu merupakan sebuah karya masterpiece yang membuka mata saya atas realita kehidupan masyrakat Indonesia era 90-an dan masih relevan sampai sekarang.

Buku pertama karya Umar Kayam yang mengesankan saya, you feel as a student and an observer while reading it. Foto: Ist
Buku pertama karya Umar Kayam yang mengesankan saya, you feel as a student and an observer while reading it. Foto: Ist

Baca juga: Menyambut Ranking Dunia UGM, UGM Membangun Peradaban Bangsa dan Dunia

Pada tahun 2009, setelah mengikuti tes beasiswa Program Pascasarjana Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusbindiklatren), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), saya memilih Program Studi Magister Ekonomika Pembangunan (MEP) UGM. Dengan kuliah di MEP UGM ini, menghidupkan Kembali kenangan indah saya pada sosok Umar Kayam (saat itu beliau sudah wafat).

Di sela-sela waktu kuliah untuk menyelesaikan tesis, saya menelusuri Kembali jejak Umar Kayam di Komplek Kampus Bulaksumur. Di buku itu beliau bercerita saat tinggal di Komplek Dosen UGM Bulaksumur.

Saya datangi rumah beliau dan pada tahun 2009 saat saya kuliah, rumah tersebut difungsikan sebagai Pusat Studi Jepang. Saya jadi teringat dengan kehidupan beliau dipanggil Pak Ageng, termasuk interaksi beliau dengan Mr. Rigen dan Nanciyem (mirip dengan nama Presiden dan Ibu negara Amerika Serikat) pembantu beliau dari Pracimantoro, Wonogiri, serta Pak Joyoboyo penjual ayam panggang keliling, serta sosok Profesor Lemahombo yang diduga adalah dosen UGM juga.

Baca juga: Sastromoeni Lintas Generasi Semarakkan Dies FIB UGM ke-74