BULAKSUMUR, KAGAMA – Sejumlah keluarga tokoh pendiri, pejuang, dan pengawal  lahirnya Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadiri Soft Launching Sistem Informasi dan Manajemen Museum UGM (SIMMUS), Rabu (26/7/2017) di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM). Keluarga tokoh yang hadir antara lain keluarga Prof. Dr. dr. Sardjito (Rektor UGM pertama), keluarga Prof. Dr. Ir. Herman Johannes (Rektor UGM).

Selain itu, hadir pula keluarga tokoh pendidikan, seperti cucu Ki Hadjar Dewantara, keluarga Ki Sarmidi Mangunsarkoro (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama yang menandatangani pengesahan UGM sebagai Universiteit Negeri Gadjah Mada), keluarga Katamsi (pencipta logo UGM). Juga, keluarga mantan Rektor UGM, antara lin istri Prof. Dr. Sukadji Ranumiharjo (Rektor UGM, istri Prof. Dr. Sukanto Rekso Hadiprojo (Rektor UGM), istri Prof. Dr. Mubyarto (guru besar Fakultas Ekonomi UGM dan tokoh Ekonomi Pancasila).

Sejumlah keluarga tokoh lainnya, seperti keluarga Prof. Harjoso Projo Pangarso (mahasiswa pertama bernomor induk mahasiswa nomor 1), Prof. Dr. Kunto WIbisono beserta istri,  pengurus Senat Akademik UGM, Dekan, mantan Dekan, pengurus Badan Musyarah Musea (Barahmus) Yogyakarta, mahasiswa, dan tamu undangan yang kompeten di bidang permuseuman dan sejarah, serta stakeholder terkait lainnya.

Prof Suratman menerima buku Museum UGM dan keping VCD tentang Sistem Informasi dan Manajemen Museum (SIMMUS) UGM menandai soft launching SIMMUS UGM (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)
Prof Suratman menerima buku Museum UGM dan keping VCD tentang Sistem Informasi dan Manajemen Museum (SIMMUS) UGM menandai soft launching SIMMUS UGM (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)

Wakil Rektor Prof Dr Suratman Worosuprojo, M Sc dalam sambutan soft launching SIMMUS UGM mengatakan, penyusunan sistem informasi dan manajemen museum (SIMMUS) UGM merupakan bagian dari upaya membangun sistem pembelajaran yang dikelola menjadi bagian global education. Selain itu, dari keberadaan enam museum yang dimiliki UGM dapat dikelola secara sistemik, antara lain meliputi pengelolaan museum tertua, Museum Biologi, Museum Kayu Wanagama, Museum Paleoantropologi, Museum Gumuk Pasir, dan Museum Peta.

Kegiatan terkait pengelolaan museum, diakui Suratman yang juga menjabat Ketua Barahmus Yogyakarta, menghadapi tantangan besar mengingat masih rendahnya kepedulian dan apresiasi masyarakat. Dibandingkan dengan keberadaan mal, museum masih kalah jauh populer, terutama bagi generasi muda.

“Museum itu musuhnya hanya satu, mal. Kalau ada mal, ada museum, anak-anak pilih mal. Tapi di Louvre Prancis, pengunjung museum di sana  mencapai puluhan ribu. Museum di Prancis dan negara Eropa benar-benar jadi tempat untuk belajar,” ucap dosen Fakultas Geografi UGM.

Lebih lanjut Suratman berharap para pimpinan UGM dapat membangun Museum UGM yang lebih megah dan lebih besar seperti Museum Louvre. Dengan bangunan yang megah dan besar di lokasi yang luas, maka kelak juga akan dikoleksi jejak rekam sejumlah alumni UGM yang menjadi tokoh inspiratif bangsa, seperti  Ir Joko Widodo yang menjadi pemimpin dan negarawan. Selain itu, juga ada Boediono yang pernah menjabat Wakil Presiden. Juga, tokoh lainnya, seperti Basuki Hadimuljono, Budi Karya Sumadi, serta sejumlah alumni Kampus Pancasila yang telah berjasa dan mengharumkan nama bangsa.

“Kita juga ikut membesarkan Obama, mantan Presiden Amerika Serikat. Kita menjadi tahu masa kecil Obama di Bulaksumur D-7. Bapaknya alumnus Fakultas Geografi UGM. Tempat Obama dibesarkan (keluarga paman tirinya, Prof. Drs. Iman Soetiknjo –red) sekarang jadi Museum UGM,” ucapnya. [rts]