Kejujuran dan Idealisme adalah Prinsip Ani Setyopratiwi dalam Berbisnis VCO

574
Dosen Kimia UGM, Ani Setyopratiwi, bercerita tentang suka duka berbisnis VCO (Virgin Coconut Oil). Foto: Humas UGM
Dosen Kimia UGM, Ani Setyopratiwi, bercerita tentang suka duka berbisnis VCO (Virgin Coconut Oil). Foto: Humas UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Es kelapa muda tampak segar dikonsumsi ketika hari sedang terik-teriknya.

Apalagi sekarang sedang memasuki musim kemarau. Namun, kesegaran kelapa juga dapat meredakan krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Sebab, buah yang punya rerata produksi 2,9 juta ton (2015-2019) di Indonesia ini punya segudang potensi. Yakni apabila kelapa mampu diolah menjadi produk bernilai jual tinggi.

Dosen Kimia UGM, Dra. Ani Setyopratiwi, M.Si, memilih mengolah kelapa menjadi VCO (Virgin Coconut Oil).

Ani mengambil ekstrak dari daging kelapa untuk diubah menjadi VCO.

Baca juga: Buku Ketiga Karya KAGAMA Virtual Writing, Kisahkan Semangat Pemuda Puncak Kleco Membangun Potensi Wisata Lokal

“VCO adalah minyak kelapa yang tidak mengalami perubahan kualitas dalam proses pemisahan dari emulsi santan,” kata Ani dalam webinar yang diadakan Penerbit Andi, Kamis (16/7/2020).

“Dalam hal ini, proses pemanasan dihindari. Kita boleh memecah emulsi santan melalui proses fermentasi secara alami atau buatan,” jelas wanita yang mendapat gelar sarjana dari Kimia UGM pada 1988 ini.

Seperti diterangkan Ani, fermentasi alami dilakukan dengan membiarkan santan dalam waktu tertentu sampai tingkat keasaman (isoelektrik) optimalnya tercapai.

Pada titik tersebut, emulsi akan pecah lalu minyak VCO muncul.

Namun, agar prosesnya lebih cepat, kelapa yang dipilih haruslah yang tua sedari di pohon, kering, dan segar.

Baca juga: Begini Tantangan Model Bisnis Baru Supply Chain di Era Digital