Kebutuhan Pelari Tak Hanya Jersey dan Sepatu

68
Kebutuhan seorang pelari tidak hanya jersey, sepatu, dan kacamata hitam. Foto: Kinanthi
Kebutuhan seorang pelari tidak hanya jersey, sepatu, dan kacamata hitam. Foto: Kinanthi

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Sebagai bentuk persiapan UGM FEBulous Run yang akan digelar pada 22 September 2019 mendatang, Kafegama menyelenggarakan Road To FEBulous Run pada Minggu (04/08/2019).

Selain melakukan uji coba rute, peserta juga diajak mengikuti Coaching Clinic yang mengusung tema “Maksimalkan Performa Lari Dengan Gadget Anda” di Gedung Pusat Pembelajaran FEB UGM.

Coaching Clinic diisi oleh Adriansyah Chaniago seorang pelari World Marathon Major (WMM) dan Abah Ush, wartawan Kompas sekaligus running enthusiast sebagai moderator.

Adri satu dari 17 orang di Indonesia yang khatam WMM.

Singkat informasi mengenai background Adri, pria berusia 52 tahun ini mulai menekuni olah raga lari pada 2014.

Peserta yang mendaftar tidak hanya dari Indonesia, tetapi ada dari Finlandia dan Prancis. Foto: Kinanthi
Peserta yang mendaftar tidak hanya dari Indonesia, tetapi ada dari Finlandia dan Prancis. Foto: Kinanthi

Tahun sebelumnya ia pernah mengidap penyakit pneumonia dan harus berobat ke Singapura.

Setelah dinyatakan sembuh, Adri berupaya menyehatkan paru-parunya kembali dengan berolah raga sesuai saran dokternya.

Ia pun memilih kegiatan lari dan mulai serius menjalaninya hingga saat ini.

Pelari asal Jakarta ini dalam Coaching Clinic banyak menjelaskan bagaimana memaksimalkan gawai untuk olahraga, terutama untuk kegiatan lari.

Pada masa-masa awalnya memulai kegiatan lari, Adri sudah memanfaatkan gawainya, terutama dengan aplikasi Nike Run.

“Saya mengembangkan kemampuan lari secara bertahap, mulai lari keliling komplek sampai ikut event marathon. Kemudian saya cari satu hal yang bisa memotivasi saya untuk lebih berkembang dengan mengikuti WMM. Setelah itu, berkenalan dengan gadget-gadget yang Saya pikir bisa membantu meningkatkan performa Saya dalam berlari,” ujar Adri.

Adri menambahkan, ia bersyukur, berkat meningkatnya performa lari itu, Adri tahun ini bisa masuk ke Boston Qualifier Marathon.

Pada 2019 ini, Adri ditargetkan berlari 10 km dalam waktu 3 jam 30 menit. Ia pun berhasil dalam durasi 3 jam 29 menit.

Gawai-gawai yang biasa digunakan untuk meningkatkan performa lari di antaranya sport watch, smart watch, dan smartphone.

Dikatakan oleh Adri, seorang pelari tentu membutuhkan alat ukur yang bisa menentukan jarak dan waktu.

“Di awal-awal kita sudah biasa menggunakan jam tangan atau  handphone. Sekarang sudah banyak software khusus yang didesain untuk membantu pelari. Ini langsung terhubung dengan GPS, kemudian terkonek start. Terus ketahuan waktu tempuhnya berapa dan jarak berapa kita lari,” ujar Adri.

Heart Rate

Menurut Adri, ada satu kebutuhan khusus yang harus dipenuhi, bila ingin lebih serius mengoptimalkan lari, yaitu heart rate.

Jika pelari hanya menggunakan smartphone, tersedia penghitung jarak dan waktu, maka heart rate hanya bisa dihitung manual.

Meskipun demikian, kata Adri kebutuhan pelari akan penentuan heart rate sudah semakin tinggi.

“Mungkin ada beberapa yang nggak ngerti atau pakai coach. Namun yang jelas, jika ingin mengoptimalkan latihan, pastikan ada zona-zona dari heart rate kita. Ada zona 1 hingga 5,” jelasnya.

Adri menjelaskan, ada rumus sederhana untuk mengetahui heart rate yang baik untuk setiap pelari, yaitu 220 dikurangi umur.

Ini merupakan maksimum heart rate seorang pelari. Rumus tersebut bersifat umum dan dianjurkan bagi pelari pemula.

“Maksimum heart rate ini digunakan sebagai guide bahwa titik itulah heart rate tertinggi kita kalau kita mau mendapatkan benefit dari latihan kita. Dianjurkan di awal kita berada di big level, yang penting heart rate-nya masuk dalam zona heart rate aerobik, yakni di zona 1 dan 2. Sekitar 60-75 persen,” jelas Adri.

Sementara itu, untuk kompetisi ada cara lain lagi, yakni menggunakan zona 2 dan 3.

Supaya bisa mendapatkan itu, Adri akhirnya menggunakan smartup sport watch.

Alat ini membantu Adri menentukan jarak, waktu, dan heart rate, bahkan bisa menyesuaikan dengan performa-performa dia berikutnya.

“Jadi bisa menentukan kira-kira zona yang tepat untuk saya seperti apa. Di sini ada database, programming, dan coaching. Dalam software-ya juga diberikan opsi bagaimana caranya bisa finish marathon pada jarak 5K, 10K, dan seterusnya. Sport watch ini makin canggih dan bisa memenuhi kebutuhan pelari, bahkan juga bisa terhubung dengan media sosial kita,” tandasnya.

Adri kemudian menyampaikan beberapa catatan lagi.

Dari sekadar mengetahui jarak waktu, pelari juga bisa mengetahui progres latihannya. Sampai akhirnya bisa membuat fitnes travel.

“Ada istilah know your body well dan know your limit well. Kita harus ingat itu,”pungkasnya.

Kebutuhan seorang pelari tidak hanya jersey, sepatu, dan kacamata hitam.Tetapi, gawai juga dibutuhkan. Demikian Adri menyimpulkan. (Kinanthi)