BULAKSUMUR, KAGAMA – Indonesia rentan menjadi korban pencurian sumber daya hayati. Risiko tersebut sebagai akibat Indonesia belum memiliki basis data keanekaragaman hayati. Padahal, hasil budi daya keanekaragaman hayati Indonesia terbesar di dunia.

Pakar sistematika tumbuhan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Abdul Razaq Chasani, S. Si., M. Sc. mengungkap permasalahan itu, Senin (22/5/2017) dalam Pelatihan Bioinformatika di kampus setempat. “Potensi keanekaragaman hayati yang besar belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu penyebabnya karena belum adanya pangkalan data keanekaragaman hayati Indonesia,” cetusnya.

Abdul Razaq mengharapkan dari pelatihan tersebut pihak berkompeten dapat mengembangkan kemampuan bioinformatika dalam mendukung penelitian keanekaragaman hayati Indonesia. Mengingat,  penyusunan basis data sangat diperlukan dan menjadi langkah awal dalam upaya penyelamatan kekayaan hayati di Indonesia.

Menurutnya, perlu ada pelibatan berbagai pihak dalam membangun basis data nantinya. Mulai dari masyarakat, peneliti, dan berbagai pihak-pihak terkait. “Melalui basis data ini dapat digunakan untuk memonitor dinamika keanekaragaman hayati. Apakah menurun atau melimpah. Dengan begitu, kebijakan analisis dan pengembangan mengacu pada data ini,” jelasnya.

Perlu pelibatan berbagai pihak dalam membangun basis data keanekaragaman hayati Indonesia, baik masyarakat, peneliti, dan berbagai pihak terkait ((Foto ISTIMEWA)
Perlu pelibatan berbagai pihak dalam membangun basis data keanekaragaman hayati Indonesia, baik masyarakat, peneliti, dan berbagai pihak terkait ((Foto ISTIMEWA)

Dekan Fakultas Biologi UGM, Dr. Budi Setiadi Daryono, M. Agr. Sc., menyampaikan hal senada. Indonesia membutuhkan basis data biodiversitas dalam level genomik hingga ekosistem. “Sebenarnya data keanekaragaman hayati Indonesia sudah ada, tetapi belum terintegrasi dan hanya untuk pemanfaatan dalam waktu pendek,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Budi, selama ini data keanekaragaman hayati Indonesia masih tersebar. Belum terpadu menjadi basis data nasional. Oleh sebab itu,, penting menyusun basis data yang  terintegrasi, bersifat real time berbasis website, dan dapat diakses oleh para peneliti.

“Pengembangan basis data keanekaragaman hayati nasional ini perlu dilakukan untuk melindungi biodiversitas Indonesia,”tegasnya.

Pelatihan yang digelar selama dua hari, Senin dan Selasa (22/5- 23/5/2017) turut menghadirkan Associate Professor, The College of Idaho, USA, Luke Daniels, Ph. D., sebagai narasumber. Selain itu, juga Tuty Arisuryanti, Ph. D., ahli genetika Fakultas Biologi UGM. [Humas UGM/Ika/rts]