Kawruh Jiwa dari Ki Ageng Suryomentaram Bukanlah Ajaran Kelompok Kebatinan

640
Pendiri langgar.co alumnus Filsafat UGM, Irfan Afifi, mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya diajarkan Ki Ageng Suryomentaram dalam Kawruh Jiwa. Foto: Langgar
Pendiri langgar.co alumnus Filsafat UGM, Irfan Afifi, mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya diajarkan Ki Ageng Suryomentaram dalam Kawruh Jiwa. Foto: Langgar

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962) bukanlah seorang pujangga layaknya Ngabehi Ranggawarsita atau Arya Mangkunegara.

Dia tidak menyodorkan ajaran ngelmu yang lebih dekat pada aspek spiritualitas.

Akan tetapi, yang ditawarkan Ki Ageng Suryomentaram adalah sistem cara berpikir yang gamblang dan sistematis.

Pegiat kebudayaan, Irfan Afifi, melihat Ki Ageng Suryomentaram sebagai filsuf Par Excellence dalam kaca mata dunia barat.

Par Excellence adalah istilah untuk menyebut seseorang atau satu pihak yang dianggap sebagai terbaik dari lainnya dalam suatu bidang.

Baca juga: Dubes Wahid Serahkan Becak dari Sultan HB X kepada Salah Satu Museum Tertua di Rusia

“Dia mengeksplisitkan filsafat dari ontologi sampai praksis. Bahkan hingga ke level etika,” kata Irfan, dalam webinar yang diadakan Laboratorium Filsafat Nusantara Fakultas Filsafat UGM, Jumat (24/7/2020).

Satu dari sekian ajaran Ki Ageng yang cukup fenomenal adalah Kawruh Jiwa.

Menurut Irfan, banyak orang yang menganggap Kawruh Jiwa sebagai ajaran kelompok kebatinan.

Namun, kata Irfan, ini salah, sama sekali tidak benar.

Bagi alumnus Fakultas Filsafat UGM ini, Ki Ageng adalah filsuf beraliran eksistensialis pertama di Indonesia.

Baca juga: Ketua KAGAMA Filsafat: Alumni Filsafat UGM Punya Peran Penting untuk Masyarakat