Kata Ekonom UGM Soal Pendemi Covid-19 yang Sebabkan Disrupsi Global

50
Ekonom UGM, Rimawan Pradiptyo, Ph.D menyebut, Indonesia masih punya masalah dengan cara berpikir masyarakat  yang tidak pernah strategis dan tidak memiliki sense of crisis. Foto: Reuters
Ekonom UGM, Rimawan Pradiptyo, Ph.D menyebut, Indonesia masih punya masalah dengan cara berpikir masyarakat  yang tidak pernah strategis dan tidak memiliki sense of crisis. Foto: Reuters

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Resisten dan adaptasi merupakan dua perilaku masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Tak bisa diprediksi ke depannya, akankah masyarakat terus resisten atau beradaptasi pada perubahan yang ada.

Secara teoritis, ekonom UGM, Rimawan Pradiptyo, Ph.D mengatakan, sebelum Covid-19 mewabah, sudah ada berbagai sikap masyarakat yang muncul.

Sikap-sikap tersebut yakni vulnerablility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA).

Rimawan melihat, ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang cepat, serta terjadinya interval atas krisis ekonomi semakin pendek.

Baca juga: 6 Kebijakan Ekonomi untuk Atasi Pandemi Covid-19

Selain itu, peraturan di tingkat internasional semakin ketat, serta kesadaran akan keselamatan, kesehatan, dan lingkungan semakin meningkat.

Namun, inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi sayangnya tidak terjadi di Indonesia.

”Tidak ada insentif untuk melakukan itu, sehingga jangan heran biaya research and development yang dihabiskan masih di katakanlah kurang dari 1 persen dari GDP,” tuturnya dalam Seminar Online Beradaptasi Dengan Norma Baru di Masa Krisis Covid-19.

Seminar ini digelar oleh Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM pada Selasa (14/04/2020).

Setelah pandemi ini menyerang, kata Rimawan, VUCA terjadi sangat ekstrem.

Baca juga: Ekonom UGM Sebut Tidak Ada Trade-Off antara Nyawa dan Ekonomi