KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Aplikasi Kanafit yang digagas oleh Nurul Muizah, mahasiswi pendidikan dokter, UGM, menjadi terobosan terbaru dalam dunia kesehatan. Iza, perancang aplikasi ini menyampaikan bahwa Kanafit menghubungkan smartband yang dikenakan di pergelangan tangan dengan aplikasi di gawai.

Smartband yang telah terkoneksi dengan Kanafit mampu menunjukkan tekanan darah, detak jantung, langkah kaki, serta kadar oksigen dalam tubuh. Hal ini disampaikannya dalam Soft Launching Aplikasi Kanafit Smarthealth di Innovative Academy HUB UGM pada Sabtu (10/11/2018).

Keuntungan dari adanya Kanafit yang terhubung dengan smartband adalah pengguna tidak perlu mengecek kesehatan ke klinik, rumah sakit, atau puskesmas. Hal ini karena aplikasi telah mampu menunjukkan indikasi kesehatan seperti yang disebutkan di atas.

“Dengan adanya pengecekan pribadi melalui Kanafit, pengguna dapat memiliki riwayat kesehatannya sendiri secara detail yang tidak bisa didapatkan apabila cek kesehatan ke klinik,” tutur Iza.

Untuk menggunakan aplikasi besutan Majapahitech ini, pengguna harus mengunduh Kanafit, login dengan akun baru atau gmail, serta mengisi data diri seperti nama dan usia. Data diri menjadi penting dilengkapi, karena Kanafit akan menunjukkan normal tidaknya kondisi pengguna melalui data diri dengan hasil pengukuran yang muncul dari aplikasi ini.

“Pengguna juga dapat mengecek kondisi tubuhnya dalam hitungan hari, minggu, atau bulan,” ujarnya.

Selain menunjukkan indikasi kesehatan, Iza menjelaskan bahwa hasil pengecekan dapat menunjukkan kecenderungan pengguna terhadap penyakit tertentu. Misalnya, Kanafit menunjukkan tekanan darah yang cenderung tinggi, maka pengguna dapat mengetahui kecenderungan penyakitnya.

Bahkan, Kanafit mampu menghubungkan hasil pengecekan dengan artikel terkait yang bisa menstabilkan kondisi tubuh pengguna. Apabila pengguna memiliki tekanan darah tinggi, maka ia dapat membaca artikel yang dapat menurunkan tekanan darah dan dapat terhindar dari risiko terkena penyakit.

Dalam sesi diskusi santai dengan tema “Disrupting Healthcare Market: Opportunites & Challenges”, Iza menyebutkan bahwa proses pembuatan Kanafit dimulai sejak Mei 2018. Alasannya memilih Kanafit yang terhubung dengan smartband atau hardware karena masih minimnya pengembang startup di Indonesia yang menghubungkan aplikasi dengan hardware. Oleh karena itulah, ia dan teman-temannya yang lain berusaha untuk mengembangkannya.

Iza pun menjelaskan mengenai ketertarikannya dengan dunia digital yang dikolaborasikan dalam dunia kesehatan. Menurutnya, banyak aspek kehidupan seperti transportasi, logistik, dan informasi yang telah didisrupsi oleh teknologi digital. Bagi Iza, hal ini menjadi penting karena cepat atau lambat, teknologi digital akan mendisrupsi dunia kesehatan.

Untuk rencana kedepan, Iza berharap dapat mengembangkan Artificial Intelligent (AI) untuk memudahkan dan mengefisienkan kerja dokter dalam menangani pasien. Ia mencontohkan pada kasus sulitnya pembacaan x-ray.

Dokter yang memiliki kemampuan membaca x-ray harus menempuh spesialis dan membutuhkan waktu yang lama. Akan tetapi, dengan pengembangan AI yang memanfaatkan algoritma, x-ray dapat dibaca lebih cepat dan mudah.

Iza pun berharap keke depann dapat mengembangkan telemedicine yang mampu menghubungkan dokter dengan pasien dalam jarak jauh melalui penggunaan telekomunikasi. Hal ini disebabkan tidak meratanya jumlah dokter di berbagai tempat, terutama pedesaan.

Dengan berkembangnya aplikasi seperti Kanafit ini, kata Iza, bukan berarti tidak akan dijumpai masalah. Dunia kesehatan dapat dikatakan unik dalam era disrupsi ini karena bersifat konservatif, highly regulated, banyak etika yang harus dipatuhi, serta resisten. Bahkan, ada anggapan bahwa perkembangan teknologi digital akan mampu menggantikan peran dokter dalam melayani pasien.

“Akan tetapi, perkembangan teknologi digital ini belum tentu mampu menggantikan peran dokter, tetapi lebih pada memudahkan dan mempercepat kerja dokter,” pungkas Iza.(Tita)