YOGYAKARTA, KAGAMA – Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Virtual menggelar nonton bareng Film Nyai Ahmad Dahlan, Minggu (20/8/2017) di studio 3 Empire XXI,  Jl Urip Sumoharjo No 104, Klitren, Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Nonton bareng dihadiri Ketua Umum PP Kagama Ganjar Pranowo, S. H., MIP, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni Dr. Paripurna P. Sugarda, S. H., M. Hum., LLM dan mantan Rektor UGM Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M. Sc., Ph. D.

Anggota Kagama Virtual menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum acara nonton bareng (Foto Wempi Gunarto/KAGAMA)
Anggota Kagama Virtual menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum acara nonton bareng (Foto Wempi Gunarto/KAGAMA)

Film Nyai Ahmad Dahlan merupakan film biopic sosok pahlawan nasional Indonesia, Siti Walidah yang juga dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan merupakan tokoh perempuan dari Kauman, Yogyakarta. Film ini menceritakan perjalanan Nyai Ahmad Dahlan mendampingi perjuangan Kyai Ahmad Dahlan dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat dengan melahirkan Yayasan Muhammadiyah, yang kemudian diikuti dengan berdirinya Yayasan Sopo Tresno yang selanjutnya berganti nama menjadi Yayasan Aisyiyah pada 19 Mei 1917. Film Nyai Ahmad Dahlan dibintangai oleh Tika Bravani sebagai Nyai Ahmad Dahlan dan David Chalik sebagai Kyai Ahmad Dahlan. Film ini disutradarai oleh Olla Atta Adonara, dengan produser dan penulis naskah Dyah Kalsitorini yang ditulis berdasarkan data utama keluarga Kyai Ahmad Dahlan dan dokumen-dokumen lainnya. Dyah Kalsitorini merupakan alumni  Fakultas Ilmu Budaya UGM Jurusan Arkeologi angkatan 1990.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni Dr.  Paripurna P. Sugarda, SH, M Hum, LLM memberikan sambutan (Foto Wempi Gunarto/KAGAMA)
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni Dr.
Paripurna P. Sugarda, SH, M Hum, LLM memberikan sambutan (Foto Wempi Gunarto/KAGAMA)

Ganjar Pranowo dalam sambutannya mengatakan film Nyai Ahmad Dahlan merupakan film yang inspiratif dan penuh dengan pesan moral. “Di film ini ada pesan yang kuat, yaitu jangan mencari keuntungan lewat organisasi, melainkan harus menghidupi organisasi,” terang Ganjar. Selain itu, menurut Ganjar, film Nyai Ahmad Dahlan juga membuktikan bahwa di belakang laki-laki yang sukses ada perempuan yang  hebat.

Sementara itu, menurut Dwikorita Karnawati, film Nyai Ahmad Dahlan merupakan film yang istimewa, inspiratif dalam mewujudkan cita-cita bangsa. “Film ini hendaknya mencerahkan bagi Kagama untuk mengupayakan terwujudnya cita-cita bangsa,” kata Dwikorita.

Ganjar Pranowo berfoto bersama anggota Kagama Virtual usai nonton Film Nyai Ahmad Dahlan (Foto Wempi Gunarto)
Ganjar Pranowo berfoto bersama anggota Kagama Virtual usai nonton Film Nyai Ahmad Dahlan (Foto Wempi Gunarto/KAGAMA)

Dyah Kalsitorini mengaku dirinya mau terlibat dalam pembuatan film Nyai Ahmad Dahlan sebagai penulis naskah dan produser dilatarbelakangi masih minimnya film-film di dalam negeri yang bisa menjadi inspiratif, edukatif, dan teladan. ”Harapannya film ini bisa menjadi alternatif tontonan, tuntunan, dan edukasi bagi masyarakat Indonesia,” jelas Dyah yang pada 2016 juga memproduseri film Surga Menanti.

Produser dan penulis naskah Nyai Ahmad Dahlan, Dyah Kalsitorini (keempat dari kiri) berfoto bersama anggota Kagama Virtual (Foto Wempi Gunarto/KAGAMA)
Produser dan penulis naskah Nyai Ahmad Dahlan, Dyah Kalsitorini (keempat dari kiri) berfoto bersama anggota Kagama Virtual (Foto Wempi Gunarto/KAGAMA)

Tak sekadar nonton bareng, dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pengumpulan dana beasiswa bagi ratusan mahasiswa UGM berprestasi yang mengalami keterbatasan kemampuan finansial. Dari 210 alumni UGM yang hadir terkumpul dana 30-an juta rupiah. [Wempi Gunarto]