KAGAMA.CO, SIGI – Kagama Care dan perwakilan UGM mengunjungi korban bencana gempa bumi di Desa Lolu Kecamatan Biromaru, Kabupaten SIgi, Sulawesi Tengah Sabtu (20/10) sore. Desa Lolu merupakan salah satu desa terdampak gempa bumi yang melanda Palu dan sekitarnya, Gempa dengan kekuatan 7,4 Magnitudo yang disusul tsunami dan likuifaksi ini telah meluluhlantahkan tiga kota/kabupaten, yakni Palu, Donggala, serta Sigi.

Relawan mahasiswa UGM telah datang ke posko sejak sepekan,  terdiri atas mahasiswa dari berbagai kluster di UGM yang terkumpul melalui kerja sama Badan Eksekutif Mahasiswa dan Forum Komunikasi Mahasiswa UGM. Pengiriman tim relawan mahasiswa UGM merupakan yang kedua kalinya, setelah pengiriman tim medis pada awal Oktober.

Tim tersebut ditempatkan di posko setelah dilakukan assessment oleh Kagama Care Sulawesi Tengah sebelumnya. Tujuan dikirimnya tim  adalah untuk lebih mengintensifkan distribusi bantuan logistik. “Bantuan kita telah kita salurkan pelan-pelan, dengan adanya mahasiswa diharap lebih mudah dan bisa mempercepat pemulihan,” ujar Sandiaga Yudha, perwakilan Kagama Care.

Selanjutnya, untuk ke depannya, Yudha berharap keberadaan mahasiswa bisa memberi bantuan pada korban tidak hanya berupa logistik. “Seperti yang telah dilakukan di Lombok, kita  akhirnya juga bisa memberi bantuan berupa pendampingan pembuatan program wisata di sana,” ungkapnya.

Dendy Dyandra Putra, salah satu relawan mahasiswa UGM, menyatakan setelah seminggu berada di  lokasi. Timnya telah merencanakan beberapa program selain distribusi logistik, yakni Sekolah Bahagia (untuk pembangunan psiko-sosial anak) serta pembuatan MCK. “Sejauh ini, distribusi logistik dan Sekolah Bahagia telah berjalan lancar, hanya pembuatan MCK yang masih dalam proses,” tuturnya.

Rasa terimakasih disampaikan oleh Koordinator Posko Pengungsian 5, Fatkhurrahman, yang juga hadir. Ia mengapresiasi kehadiran relawan mahasiswa yang telah membantu mendampingi relawan pemuda yang berasal dari daerah setempat. “Pendampingan dan program yang dibawa sangat membantu. Sistem kerja juga menjadi lebih mudah,” sebutnya.

Fathur berharap program ini dapat terus berlanjut hingga kondisi daerahnya benar-benar pulih. Kondisi yang ia maksud tidak hanya secara material saja, namun pemulihan moral psikologis masyarakat juga penting.

“Satu dua bulan mungkin secara material kami bisa pulih, namun moral dan psikologis tidak bisa secepat itu. Lapangan pekerjaan kami banyak yang hilang, konsumen juga banyak yang hilang. Bantuan pendampingan untuk meningkatkan semangat dan etos kerja sangat kami perlukan untuk ke depannya,” paparnya.

drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D. selaku Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UGM menyatakan, UGM bersama Kagama Care akan terus mendampingi untuk bahu-membahu membangun kembali daerah ini. “Agar tujuan tersebut tercapai, kami memohon segala masukannya tentang apa yang bisa kami bantu di sini,” ujarnya.

 

Ika menyatakan bahwa program yang direncanakan UGM tidak dilaksanakan dalam waktu singkat. “Kami terinspirasi dengan Jepang yang juga memiliki wilayah yang rawan bencana. Tugas kami adalah membangun kesadaran pada anak-cucu kita nanti terhadap bencana seperti Jepang,” tuturnya.

Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Prof. Ir. Irfan Dwidya Prijambada, M.Eng., Ph.D., menambahkan  UGM berencana membangun Hunian Sementara Menuju Tetap (Huntrap) seperti yang telah dilakukan di Lombok. Ia menjelaskan bahwa hunian ini terbangun dari baja ringan berukuran 3×6 meter. Sementara waktu pembangunan hanya perlu dua hari, namun bangunan bisa tahan selama 15 tahun.

“Tim saat ini sedang kami siapkan. Desember nanti kami akan mulai turun. Mengingat saat ini sudah hampir memasuki musim hujan, hunian ini paling cocok untuk korban bencana,” ujarnya.

Irfan menyatakan tim pembangun Huntrap ini tidak hanya sebatas membangun saja. Namun, mereka juga mengajak warga untuk berlatih membangun bersama. “Oleh karena itu, kami berharap dukungan dan kerja samanya,” pungkasnya. [Sumber : Bagian Humas dan Protokoler UGM/Hakam/RTS]