MOSKOW, KAGAMA – Walaupun sudah memasuki musim semi, suhu udara di Saint Petersburg, kota terbesar kedua di Rusia, pada Jumat, 28 April 2017 lalu masih cukup menusuk tulang. Ya, suhu siang hari itu sekitar 4 derajat Celcius.  Udara kurang bersahabat, mendung sepanjang hari. Beberapa mahasiswa yang tinggal di kota budaya dan wisata itu menyarankan saya untuk datang tepat sekitar jam 13:00 siang jika ingin mendapatkan tempat. Betul saja, saya tiba jam 13:00 siang dan hanya tersisa beberapa tempat yang kosong di dalam masjid.

Saat itu saya melihat Khatib sudah di mimbar dan menyampaikan khotbah. Ternyata itu bukan khotbah. Berbeda dengan kebanyakan masjid di Indonesia, khatib memberi ceramah keagamaan sebelum adzan dzuhur dimulai dan khotbah itu sendiri praktis berlangsung singkat, hanya sekitar 10 menit dengan menggunakan bahasa Rusia. Dari wajahnya mayoritas jamaah berasal dari Rusia Tengah dan Selatan.

Rangkaian sholat Jumat selesai sekitar jam 13:40. Masjid yang berkapasitas  sekitar 5000 orang itu penuh oleh para jamaah dan bahkan banyak yang akhirnya menjalankan sholat Jumat di halaman samping masjid yang cukup luas. Tidak terlihat adanya penjagaan oleh aparat keamanan, walaupun pada 4 April lalu terjadi serangan bom di kereta bawah tanah Saint Petersburg yang menewaskan 14 orang tidak berdosa.

Dubes RI untuk Rusia M Wahid Suprihadi di antara jamaah sholat Jumat.
Dubes RI untuk Rusia M Wahid Supriyadi di antara jamaah sholat Jumat di Masjid Soekarno di St. Petersburg/foto M Wahid Supriyadi

Masjid terbesar di Saint Petersburg ini oleh masyarakat setempat dikenal dengan Masjid Biru karena warna dan ornamennya sebagian besar berwarna biru. Pengaruh Parsi terlihat besar sekali. Generasi tua mengenal masjid tersebut dengan nama Masjid Soekarno. Masjid tersebut dibangun tahun 1910 dan dibuka pertama kali tahun 1913 pada masa kekaisaran terakhir Rusia di bawah Tsar Nicholas II.

Jamaah sholat Jumat mendengarkan khatib berkhutbah.
Jamaah sholat Jumat mendengarkan khatib berkhutbah/foto M Wahid Supriyadi.

Selama masa pemerintahan Uni Soviet, kegiatan masjid dilarang dan tempat itu dijadikan gudang untuk keperluan medis. Pada tahun 1956 ketika Presiden RI I Soekarno berkunjung ke Rusia. Tepat sepuluh hari setelah lawatannya, Presiden Soekarno melawat ke Saint Petersburg dan mengunjungi gudang yang sebelumnya merupakan masjid bagi umat Islam. Secara khusus Presiden Soekarni meminta kepada Presiden Nikita Khruschev untuk menyerahkan kembali masjid itu ke masyarakat Muslim di Rusia. President Khruschev pun menyetujuianya, maka sejak saat itu masjid itu dikenal juga sebagai Masjid Soekarno.

Salah satu sisi bangunan Masjid Soekarno di Saint Petersburg./foto M. Wahid Supriyadi.
Salah satu sisi bangunan Masjid Soekarno di Saint Petersburg./foto M. Wahid Supriyadi.

Sebagian besar turis Indonesia yang mengunjungi Saint Peterburg umumnya menyempatkan diri berkunjung ke masjid bersejarah ini dan berfoto ria. Dalam pertemuan saya dengan Kepala Komisi Luar Negeri Saint Petersburg, Evgeny Grigririev, 28 April 2017 yang lalu, saya mengusulkan agar Masjid Soekarno dapat dijadikan salah satu ikon dalam melakukan promosi ke wisatawan Indonesia dan dia menyetujuinya. Diperkirakan tahun lalu sekitar 20 ribu warga Indonesia telah berkunjung ke Rusia, dan sebagian besar juga mengunjungi kota budaya ini. Sebaliknya, ada sekitar 80 ribu warga Rusia yang ke Indonesia tahun lalu, atau meningkat sekitar 22,5%. Diharapkan rencana penerbangan langsung Garuda Indonesia ke Moskow pada Agustus 2017 ini dapat lebih meningkatkan kunjungan wisatawan kedua negara [M. Wahid Supriyadi, Duta Besar RI untuk Rusia dan Belarus, Alumnus Departemen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya UGM Angkatan 1978]