Join Lecture Occupational Health In Indonesia, Soroti Risiko Kesehatan Pekerja Sektor Non Formal

1
Join Lecture Occupational Health in Indonesia.(Foto: Kinanthi)
Join Lecture Occupational Health in Indonesia.(Foto: Kinanthi)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) kini menjadi tantangan bagi dunia kedokteran untuk mempersiapkan tenaga kerja berkualitas dan produktif.

Hal ini disampaikan oleh dr. Muchtaruddin Mansyur MS, Sp.Ok., Ph.D dari Universitas Indonesia (UI) dalam acara Join Lecture Occupational Health in Indonesia.

Acara ini dihadiri oleh Dr. Lailana Dorley Purvis dari Pulvis Consulting Netherland dan dr. Sri Awalia Febriana, M.Kes, SpKK(K), Ph.D dari FKKMK UGM, di Ruang Teater, Perpustakaan Lt. 2, FK-KMK UGM pada Rabu (10/04/19).

Menurut Muchtaruddin, saat ini yang menjadi tantangan dalam upaya pengembangan SDM adalah kesetaraan (inequality). Dalam prosesnya, ada banyak kesenjangan, terutama dalam hal pendidikan dan pendapatan. Sementara bonus demografi atau populasi penduduk usia produktif semakin meningkat.

Muchtaruddin lebih melihat bagaimana dunia kedokteran berusaha menciptakan tenaga kesehatan yang berkualitas. Tantangan lain terdapat pada sisi penerima layanan kesehatan.

“Masyarakat yang bekerja di sektor non formal lebih dari 60 persen. Ini menjadi tantangan,” ungkap Muchtaruddin.

Tantangan yang dimaksud adalah bagaimana dunia kedokteran bisa memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada para pekerja non formal ini. Sebab, sebagian profesi di sektor non formal memiliki risiko kerja yang cukup tinggi.

Muchtaruddin kemudian memaparakan temuan data pendukung, bahwa dewasa ini yang mengalami penyakit parah adalah pekerja di usia produktif. Beberapa faktor yang menyebabkan kesehatan mereka cenderung menurun di antaranya sulitnya akses terhadap kesehatan, sikap mereka yang low respon, dan low drop out.

Desa Batik Sehat

Salah satu pekerjaan di sektor non formal yang memiliki risiko kecelakaan kerja cukup tinggi adalah para pengrajin, khususnya pembatik. Ini menjadi salah satu perhatian Sri Awalia yang kemudian mengembangkan Desa Batik Sehat di Kabupaten Kulonprogo. Pengembangan ini dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, Balai Batik KementerianPerindustrian RI, dan diaspora Belanda.

“Dengan adanya pengembangan Desa Batik Sehat ini, harapannya bisa untuk mengatasi masalah lingkungan dan kesehatan kerja di batik industri,” papar Sri Awalia dalam presentasinya.

Desa Batik Sehat dibentuk berawal dari konsekuensi yang dialami para pembatik. Setelah bekerja, tak sedikit di antara mereka yang tangannya mengalami alergi dan iritasi akibat terkena bahan kimia pada proses pencelupan, yakni salah satu tahap dalam pembuatan batik.

Selain itu, panjang dingklik (kursi yang digunakan pembatik saat bekerja) yang panjangnya hanya 7 cm, membuat punggung menjadi sakit. Artinya pembatik juga memiliki risiko kesehatan pada tulang punggung.

Sri awalia bersama kerabatnya kemudian membuat sarung tangan khusus untuk pembatik agar nyaman dan aman dari segi kesehatan. Sarung tangan digunakan pembatik pada proses pencelupan.

Tak hanya itu, dibuat juga masker agar pembatik tidak mengalami gangguan pernapasan akibat bau yang ditimbulkan, krim pelindung D3 nonakitosan untuk menghilangkan alergi kulit, serta pelatihan fisik agar pembatik tidak mengalami cedera dan pegal-pegal.

Di samping peningkatan kualitas tenaga kesehatan dan layanan yang diberikan, penting juga bagi para pekerja untuk memiliki asuransi. Dengan asuransi ini, diharapkan pekerja tidak lagi berat mengakses kesehatan dari segi finansial. Demikian Lailana menambahkan usulannya.

Secara umum kualitas SDM yang baik mencakup pengetahuan dan keterampilan yang didukung oleh kondisi kesehatan. Dalam diskusi ini para pengamat dan tenaga medis menargetkan tahun 2035 semua elemen terkait bisa meningkatkan kualitas SDM, khususnya tenaga kerja di bidang kesehatan.(Kinanthi)