Jalin Kerja Sama dengan Tiongkok, Indonesia Siap Jadi Raja Aluminium di Rumah Sendiri 

39
KBRI Beijing menjadi jembatan antara dua BUMN RI dengan perusahaan Tiongkok. Foto: KBRI Beijing
KBRI Beijing menjadi jembatan antara dua BUMN RI dengan perusahaan Tiongkok. Foto: KBRI Beijing

KAGAMA.CO, BEIJING – KBRI Beijing menjadi jembatan antara dua BUMN RI dengan perusahaan Tiongkok.

Kerja sama itu menjadi resmi setelah PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), PT Pembangunan Perumahan (Persero), dan China Aluminum International Engineering Corporation Limited (CHALIECO), menandatangani Kontrak Engineering, Procurement and Construction (EPC) pada Sabtu (11/1/2020) di KBRI Beijing.

Tiga perusahaan tersebut bersepakat untuk merealisasikan proyek pembangunan Smelter-Grade Alumina Refinery (pabrik pemurnian aluminium oksida).

Nilai kontrak yang disepakati dalam proyek ini ditaksir mencapai 695 juta dolar AS.

Konselor KBRI Beijing, Victor S. Hardjono mengatakan, kesepakatan tersebut adalah buah pertama kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok pada awal tahun 2020.

Sebagai informasi, Victor hadir dalam penandatanganan kesepakatan mewakili Dubes RI untuk RRT, Djauhari Oratmangun, yang tidak bisa datang.

“Momen ini menjadi penting karena 2020 merupakan tahun peringatan 70 tahun hubungan bilateral antara Republik Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok,” tutur Victor, sebagaimana dalam rilis KBRI Beijing yang diterima KAGAMA.

Baca juga: Pulang dari UEA, Presiden Jokowi Teken Proyek Rp312,7 Triliun

“Apresiasi kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah mendukung hingga terwujudnya kontrak EPC untuk pembangunan Alumina Refinery,” jelas Victor.

Dia menambahkan, pabrik pemurnian alumina memang telah lama dicita-citakan Indonesia untuk mewujudkan industri pengolahan aluminium yang mandiri.

Pasalnya, kata Victor, selama ini Indonesia masih bergantung terhadap perusahaan pengolahan luar negeri.

Indonesia dikatakan selalu mengimpor alumina untuk dijadikan aluminium di dalam negeri.

Padahal, Indonesia memiliki bahan baku bijih bauksit sendiri yang malah diekspor ke luar negeri.

Untuk diketahui, bijih bauksit merupakan bahan dasar pembuatan aluminium sebelum diubah ke bentuk alumina.

“Hal ini menjadi beban biaya produksi bagi Indonesia dan rentan terhadap perubahan harga komoditas karena melakukan ekspor bahan mentah,” tutur Victor.

Baca juga: Kagama Balikpapan dan Kagama Kaltim Sambut Mahasiswa KKN Tematik di Samboja