Jaka Widada: Pertanian Masih Bisa Bertahan Tanpa Menggunakan Pupuk Sintetis

81
Penggunaan pupuk sintetis, seperti nitrogen (N) yang berlebihan akan menimbulkan pencemaran, termasuk merusak tanah, membunuh organisme dan mikroorganisme, hingga menghambat penyebaran zat hara. Foto: Ist
Penggunaan pupuk sintetis, seperti nitrogen (N) yang berlebihan akan menimbulkan pencemaran, termasuk merusak tanah, membunuh organisme dan mikroorganisme, hingga menghambat penyebaran zat hara. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Penggunaan pupuk sintetis, seperti nitrogen (N) yang berlebihan akan menimbulkan pencemaran, termasuk merusak tanah, membunuh organisme dan mikroorganisme, hingga menghambat penyebaran zat hara.

Dosen Mikrobiologi Pertanian UGM, Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., mengungkapkan, pemanfaatan pupuk Nitrogen (N) di Indonesia berada di angka 50-75 kg N.

Sebetulnya, kata dia, pertanian masih bisa bertahan tanpa harus menggunakan pupuk sintetis.

“Sebagian besar populasi petani dunia tidak menggunakan pupuk sintetis, utamanya pupuk N. Ini suatu contoh bahwa tanpa pupuk N pertanian masih bisa hidup,” jelasnya.

Hal tersebut dia sampaikan dalam webinar Dies Natalis ke-74 Fakultas Pertanian UGM, Departemen Mikrobiologi Pertanian, yang bertema Memerdekakan Pertanian dari Ketergantungan Pupuk Nitrogen, pada Rabu (1/7/2020).

Baca juga: Menteri Basuki Genjot Infrastruktur untuk Selamatkan Ekonomi Perdesaan

Jika dilihat dari siklusnya ketika masuk ke dalam tanah, pupuk N akan menyebabkan hidrofikasi pada wilayah perairan, seperti embung, danau, dan sebagainya.

Kemudian yang tak kalah berbahaya adalah munculnya gas N20, gas rumah kaca yang efektif memanaskan kimia.

Di dalam perakaran terdapat bakteri penambat nitrogen. Jika diurutkan dari jumlah sumbangan dari yang paling tinggi ke rendah meliputi simbiotik, asosiatik, dan free-living.

Jaka menerangkan, jika kita bisa mengoptimalkan jumlah sumbang bakteri penambat nitrogen ini, misalnya simbiotik sebesar 485 kg per hektar per tahun, maka kita tak perlu lagi menambahkan pupuk sintetis lagi pada lahan tersebut.

“Intinya bagaimana kita bisa mengoptimalkan mikroba penambat nitrogen, baik simbiotik, asosiatik, atau yang tinggal di dalam tanah,” ujar lulusan The University of Tokyo, Jepang ini.

Baca juga: KAGAMA Manado Bagikan Masker dan Pelindung Wajah kepada Lansia