Jadi Fasilitator Mahasiswa

306
Selain menjadi dosen, Reza Masri adalah praktisi ekonomi yang telah malang melintang di bisnis pertambangan minyak dan gas. Foto : Josep/KAGAMA
Selain menjadi dosen, Reza Masri adalah praktisi ekonomi yang telah malang melintang di bisnis pertambangan minyak dan gas. Foto : Josep/KAGAMA

KAGAMA.CO, JAKARTA – Tak terasa waktu berjalan 10 tahun, Reza Masri menjadi dosen paruh waktu Kelas Eksekutif di Magister Manajemen Kampus Jakarta Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Dalam rentang waktu itu cukup panjang itu, dia mengaku menikmati profesinya sebagai pengajar mahasiswa S2 karena hubungan dosen dan mahasiswa di kampus begitu cair, akrab, serta interaktif.

“Bedanya mahasiswa saat ini dengan di masa saya, kini mereka lebih resourceful.”

“Terutama di Kelas Eksekutif, para mahasiswa sudah punya pengalaman kerja di bidang masing-masing dan mereka dapat menggali informasi berlimpah dari berbagai sumber, khususnya dari internet.”

“Oleh sebab itu, para dosen dituntut untuk terus meng-update pengetahuan mereka,” tutur Reza kala bertemu KAGAMA di Jakarta belum lama ini.

Menurutnya, di era digital ini, dosen tak lagi memonopoli serta menjadi sumber pengetahuan.

“Dewasa ini dosen lebih banyak menjadi fasilitator yang membuat proses belajar dan mengajar di kelas jadi interaktif dan bermanfaat bagi semuanya.”

“Namun, dosen tetap harus mempunyai pengetahuan yang bagus, luas, dan solid,” papar pria yang mengajar matakuliah Pengantar Keuangan ini.

Selain menjadi dosen, Reza adalah praktisi ekonomi yang telah malang melintang di bisnis pertambangan minyak dan gas.

Dia pernah bergabung di Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) yang sekarang menjadi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Ia sempat berlabuh di PT Pertamina (Persero) dan perusahaan minyak multinasional asal Inggris, British Petroleum (BP).

Kini Reza menjadi salah satu Konsultan Tenaga Ahli di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional untuk Bidang Pembiayaan Infrastruktur.

“Dari semasa kuliah S1 di FEB UGM hingga bekerja menjadi dosen di MM, saya merasa tak ada tempat yang begitu egaliter seperti di UGM,” pungkasnya. (Jos)