Isu Identitas Pengaruhi Kecakapan Negara Atasi Pandemi

31

Baca juga: Peneliti Alumnus UGM Ini Yakin Harimau Jawa Masih Eksis di Indonesia

Lulusan University of New Delhi, India itu menyebut, Hindutva mengaburkan fakta dan fiksi.

Sikap para penganut ideologi Hindutva pada akhirnya menuju pada sesuatu yang tidak nyata.

Menurut Novian, terus-menerus mempercayai mitologi akan membuat seseorang semakin sulit untuk membedakan fiksi dan realita, sehingga masyarakat penganut ideologi seperti ini akan kesulitan menghadapi persoalan seperti Covid-19.

Sampai berita ini ditulis, India masih menjadi salah satu dari lima negara dengan jumlah kasus positif Covid-19 tertinggi di dunia.

Pada awal Covid-19 mewabah, tepatnya saat jumlah kasus mencapai 500 orang pada bulan Maret 2020, India lantas menerapkan kebijakan lockdown. Hal ini menjadi kebijakan lockdown terbesar di dunia karena melibatkan 1,3 miliar penduduk.

Baca juga: Ganjar Ajak RI-AS Berbagi Pengalaman Adaptasi Kebiasaan Baru untuk Hadapi Pandemi

Lockdown diterapkan sampai bulan Mei 2020 dengan beberapa fase, karena tak kunjung menurun  juga kasusnya.”

“Namun, akhirnya mereka menyerah, kemudian memutuskan unlock pada bulan Juni 2020. Saya lihat keputusan ini mungkin akan menimbulkan bencana yang lebih, kesenjangan masyarakat akan semakin terlihat,” jelasnya.

Novian menuturkan, negara-negara dengan jumlah kasus terbanyak seperti India, Brasil, dan AS, masing-masing pemimpin negaranya selalu menyinggung isu-isu identitas.

Hal tersebut terjadi pada beberapa tahun belakangan dalam setiap tindakan, perkataan, pemikiran, Misalnya, agama, ras, suku, dan sebagainya.

“Melihat jumlah kasus Covid-19 yang masih stagnan, saya kira mereka yang terampil memakai isu-isu identitas, termasuk orang-orang Hindutva di India dinilai tidak cakap dalam menyelesaikan persoalan dengan teknis riil,” tegasnya. (Kn/-Th)

Baca juga: Inovasi dan Penanaman Jiwa Entrepreneur, Kunci Penting Perguruan Tinggi Hadapi Pandemi