BERTEMU dengan orang-orang baru di dunia perkuliahan membuat Ismiati Fauziah semakin sadar bahwa diriya merasa tidak ada apa-apanya. Menurut sulung tiga bersaudara ini, belajar di mana dan kapan saja adalah suatu keniscayaan. “Setiap orang yang kita temui adalah ilmu, maka tidak ada pertemuan yang sia-sia,” ungkap Mia, sapaan akrabnya, kepada kagama.co, Kamis (24/8/2017) usai prosesi wisuda.
Kendati didaulat sebagai lulusan tercepat sekaligus meraih predikat Cumlaude, wisudawati asal Cirebon, Jawa Barat ini merasa masih perlu banyak belajar. “Bertemu dengan teman mahasiswa lain di sini membuat saya merasa, saya tidak ada apa-apanya dibanding mereka,” tutur Mia yang menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 2 tahun 7 bulan 20 hari.
Wisudawati Program Studi D3 Agroindustri Sekolah Vokasi UGM ini awalnya tidak pernah membayangkan hari-hari kuliahnya di universitas Kerakyatan ini demikian padat. Tugas kuliah dan laporan praktikum kerap membuat Mia lembur dan tidak tidur. Tetapi, setelah dijalani, Mia mengaku Kota Yogya dan UGM memang atmosfir yang tepat untuk tumbuh menjadi seorang mahasiswa.
“Lembur tidak tidur sampai dua hari dua malam, sekarang justru bikin rindu,” ungkapnya.
Ismiati Fauziah setelah lulus tercepat dan meraih predikat Cumlaude, ia bisa lanjut kuliah lagi (Foto Nurrokhman/KAGAMA)
Ismiati Fauziah setelah lulus tercepat dan meraih predikat Cumlaude, ia bisa lanjut kuliah lagi (Foto Nurrokhman/KAGAMA)
Hari-hari Mia juga diisi dengan aktif berorganisasi. Selama ini Mia tercatat pernah tergabung dalam Engslish Club Sekolah Vokasi dan Himpunan Mahasiswa Jurusan di Agroindustri (KOMMAPRADA). Meskipun demikian, Mia mengaku selalu fokus pada target. Ia tak pernah menganggap orang lain sebagai pesaing. “Diri sendiri adalah pesaing yang sesungguhnya,” tandas Mia yang bercita-cita menjadi dosen.
Padatnya kuliah dan berorganisasi tak membuat Mia mempunyai halangan yang berarti. Hanya saja, penyuka literasi ini sedikit kerepotan ketika harus bolak-balik dari Sekolah Vokasi dan Fakultas Teknologi Pertanian untuk praktikum. Namun begitu, kesungguhan Mia dalam menuntut ilmu seolah menghapus kerepotan itu.
“Kalau ke kampus sepedaan mah sudah biasa, karena, saya memang nggak bisa naik motor sih….” kelakarnya.
Rasa bangga dan syukur dirasakan Usnadi, ayah Mia, yang pagi itu menghadiri prosesi wisuda. Bersama istri dan kedua adik Mia, satu rombongan keluarga ini berangkat dua hari sebelum prosesi wisuda berlangsung. Sebagai orang tua, Usnadi selalu berpesan supaya Mia memanfaatkan waktu dengan baik.
“Harapannya sesuai dengan harapan Mia sendiri, supaya bisa lanjut kuliah lagi,” pungkas ayah Mia yang berprofesi sebagai guru.[TH]