Islam yang Toleran Berkembang Pesat di Rusia

Masjid tertinggi di Ufa/foto M Wahid Supriyadi

MOSKOW, KAGAMA – Banyak yang tidak mengerti  bahwa ada sekitar 25 hingga 30 juta umat Muslim di Rusia, atau hampir 20% dari seluruh warga Rusia. Di luar Turki, Rusia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di Eropa.

Keadaan di Rusia saat ini hampir tidak ada bedanya dengan suasana di Indonesia. Beberapa media di Indonesia masih menulis Rusia sebagai negara Komunis. Padahal, sejak 1991 negeri ini telah berubah menjadi negara Federasi Rusia dan yang berkuasa adalah Partai Rusia Bersatu (United Russia). Pemerintah Rusia menjamin masyarakatnya untuk beribadah sesuai keyakinan masing-masing. Presiden Yeltsin bahkan tahun itu pernah melarang Partai Komunis namun dianulir oleh Mahkamah Konstitusi.

Dubes M Wahid Suprihadi bersama Imam Masjid Ufa Mufti Talgat Tajuddin di St Petersburgfoto M Wahid Supriyadi
Dubes M Wahid Supriyadi bersama Imam Masjid Ufa Mufti Talgat Tajuddin di Ufa/foto M Wahid Supriyadi

Agama Kristen Ortodoks masih menjadi agama terbesar di Rusia. Dalam survei yang dilakukan pada tahun 2012, sekitar 58% masyarakat Rusia mengaku beragama Kristen Ortodoks. Angka resminya sekitar 75% penduduk Rusia saat ini beragama Kristen Ortodokd. Menariknya, antara Islam dan Ortodoks hampir tidak pernah terjadi perselisihan. Dalam sebuah cerita, Pangeran Vladimir yang merupakan generasi ketiga keturunan Pangeran Rurik, pendiri Rusia, pada abad ke-10 sempat bimbang ketika akan memilih antara Islam atau Ortodoks sebagai agama resmi. Pangeran Vladimir akhirnya memilih Ortodoks karena Islam melarang alkohol. Atas jasanya ini Patung Vladimir didirikan di depan Istana Kremlin dan diangap sebagai Bapak pendiri Ortodoks di Rusia.

Sejarah masuknya Islam ke Rusia sebenarnya jauh lebih dulu dibandingkan di Indonesia. Menurut sejarah, Islam masuk wilayah Kaukasus Utara (sekarang wilayah Dagestan) pada abad VII pada zaman Dinasti Ummayah. Tahun 737, tentara Islam di bawah komando Jenderal Marwah bin Muhammad, berhasil menguasai Kerajaan Khazar yang wilayahnya sekarang meliputi Rusia bagian selatan, Dagestan (termasuk Chechnya), Kazakhstan, Ukraina Timur, Azerbaijan dan Georgia. Dari sini Islam terus berkembang sampai pendudukan oleh bangsa Mongol di abad XIII karena salah satu penguasa Mongol, Uzbeck Khan memeluk agama Islam dan menjadikan Islam sebagai agama negara.

Mongol menjajah Rusia selama hampir dua setengah abad. Pada awal abad XV mucul beberapa kerajaan Islam (Khanate) di hampir seluruh wilayah Rusia Tengah, yaitu  meliputi Kerajaan Kazan, Krimea, Siberia, Noghay, dan Astrakhan. Di bawah Tsar Ivan IV (Ivan the Terrible), Kazan dan Astrakhan berhasil ditundukkan dan menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia.

Tiga abad kemudian jatuh pula Siberia dan Dagestan yang saat itu wilayahnya meliputi Chechnya. Sejak saat itulah Islam mulai meredup karena Kekaisaran Rusia mengakui Kristen Ortodoks sebagai agama negara. Semua agama di Rusia praktis mendapat tekanan semasa pemerintahan Uni Soviet.

Kitab suci Al Qur'an tulisan tangan zaman Khalifah Usman, satu di antara enam yang ada di dunia, kini disimpan di Ufa - (foto M Wahid Supriyadi)
Kitab suci Al Qur’an tulisan tangan zaman Khalifah Usman, satu di antara enam yang ada di dunia, kini disimpan di Ufa – (foto M Wahid Supriyadi)

Saat ini Islam menjadi agama paling pesat perkembangannya di Rusia. Saya sempat bertemu dengan Mufti Agung Federasi Rusia yang berasal dari Ufa, negara bagian Bashkortostan, Talgat Tajuddin di kantornya, Oktober tahun lalu. Dia dengan bangga menunjukkan bukti satu dari enam Al Qur’an yang ditulis tangan pada Khalifah Usman abad VII yang masih tersisa di dunia. Lembaran kertas kuno bertuliskan Arab tersebut masih tersimpan di Masjid yang juga menjadi kantornya.

Talgat Tajuddin mengatakan bahwa sejak Presiden Putin menjabat, ada sekitar 7500 masjid baru dibangun di seluruh Rusia. Imam yang pernah dua kali ke Indonesia dan masih hafal beberapa kata dalam bahasa Indonesia ini kepada saya mengatakan bahwa setiap tahunnya ada sekitar 50 masjid baru dibangun di Rusia. Dia sangat terkesan dengan Islam di Indonesia dan mengatakan bahwa Islam di kedua negara merupakan Islam yang toleran dan damai.

Di Ufa saat ini sedang dibangun sebuah masjid yang sangat indah, disebut Masjid Salavat Yulayef. Diperkiarakan akhir tahun ini masjid tersebut selesai dibangun dan akan memiliki menara tertinggi di Rusia setinggi 74 m, atau kedua tertinggi di Eropa setelah Masjid Sulaimaniah di Istambul.

Dubes RI untuk Rusia Wahid Suprihadi bersama Imam Masjid Agung Moskow dan Ketua Dewan Mufti,  Sheikh Ravil Gaynutdin./foto M Wahid Supriyadi
Dubes RI untuk Rusia Wahid Supriyadi bersama Imam Masjid Agung Moskow dan Ketua Dewan Mufti, Sheikh Ravil Gaynutdin./foto M Wahid Supriyadi

Saya sendiri telah dua kali berkunjung ke negara bagian yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, Tatarstan. Saya bertemu dengan Kepala Pemerintahan (masih disebut sebagai Presiden) Rustam Minnikhanov.

Sama seperti Imam Tajuddin, Presiden Minnikhanov sangat mengenal Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia yang sangat toleran. Bahkan, dia mengatakan bahwa Islam mendekatkan Rusia dengan Indonesia.  Ibu Kota Tatarstan, Kazan, saat ini menjadi salah satu tujuan utama wisatawan asal Indonesia. Bahkan, Desember tahun lalu ada pasangan muda dari Indonesia yang untuk pertama kalinya menikah di Masjid Khul Sharif yang sangat indah yang terletak di samping pusat pemerintahan. [M. Wahid Supriyadi, Duta Besar RI  untuk Rusia dan Belarus, Alumnus Departemen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya UGM Angkatan 1978]