Intrik di Balik Berdirinya Kadipaten Pakualaman

140
Ketua Lokantara alumnus UGM, Dr. Purwadi M.Hum, bercerita tentang intrik dibalik berdirinya Kadipaten Pakualaman pada masa lalu. Foto: Kundarii
Ketua Lokantara alumnus UGM, Dr. Purwadi M.Hum, bercerita tentang intrik dibalik berdirinya Kadipaten Pakualaman pada masa lalu. Foto: Kundarii

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Desa Tuntang (dulu di Salatiga) menjadi saksi penyerahan kekuasaan Belanda atas Nusantara kepada Inggris.

Gempuran  pasukan Inggris pimpinan Thomas Raffles membuat pemerintah kolonial Belanda kalang kabut.

Gubernur jenderal Jawa kala itu, Willem Janssens akhirnya menyerah dengan menyepakati Perjanjian Tuntang pada 1811.

Namun, Perjanjian Tuntang juga memberikan catatan bagi Dinasti Mataram.

Semua bermula pada 17 Maret 1811 ketika Pura Pakualaman Yogyakarta berdiri.

Baca juga: Pariwisata Yogyakarta Kembali Dibuka, Tetapi…

Istana yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Thomas Raffles itu pun menjadi pusat pemerintahan bagi Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta.

Anak dari Sultan Hamengkubuwana I, Pangeran Notokusumo, dinobatkan jadi penguasa Kadipaten Pakualaman.

Dia lalu mendapatkan gelar Kanjeng Gusti Adipati Arya Paku Alam I.

Ketua Lokantara (Lembaga Olah Kajian Nusantara), Dr. Purwadi, M.Hum, memiliki pandangan atas fenomena berdirinya Kadipaten Pakualaman.

“Keberadaan Kadipaten Pakualaman dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa tampaknya tidak dapat dipisahkan adanya persaingan elite politik atau bangsawan,” tutur Purwadi, kepada Kagama.

Baca juga: Perang Panjang Perebutan Kekuasaan Mataram yang Diakhiri Perjanjian Salatiga