KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Peran dan keberadaan petani sangat mendukung bagi akademisi bidang pertanian. Akademisi yang cerdas akan banyak berinteraksi dan berkomunikasi dengan petani. Interaksi dan komunikasi itu dijalin terutama dalam proses riset.

Salah seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), yaitu Dr. Tri Harjoko, SP, MP selalu berinteraksi dan berkomunikasi dengan petani. Hal itu dilakukannya dalam upaya mendapatkan hasil riset yang valid. Proses interaksi dan komunikasinya itu dilakukan Tri Harjoko, antara lain dengan turut menjadi petani. Caranya, ia menyewa lahan pertanian guna ditanami benih untuk objek risetnya.

“Saya menyewa tanah untuk menanam sekian banyak singkong. Ada lebih dari 60 jenis singkong. Kebetulan yang sudah dipanen ada 25 jenis singkong. Singkong yang dipanen ini cukup yang berumur delapan bulan,” ujarnya kepada kagama.co, belum lama ini di Fakultas Pertanian UGM, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta.

Tri Harjoko, yang juga pakar hama tanaman, menyebutkan telah “mengoleksi” berbagai jenis ketela pohon (singkong) yang berbeda jenis. Benih ketela pohon tersebut ditanam untuk diamati sebagai proses riset yang hasil akhirnya dibuktikan dari rasanya. Dari sejumlah koleksi singkongnya, Tri Harjoko mendapatkan sedikitnya 25 jenis, yaitu ketela kuning untuk tape, ketela yang langu sebagai bahan pembuatan gaplek, ketela yang warna putih seperti santan untuk diambil tepung tapioka dan moka, dan lainnya. Validitas masing-masing jenis berikut manfaatnya itu diperolehnya dari petani dan pembuat makanan tradisional, seperti gaplek, cethot, thiwul, dan lainnya. [RTS]